Read more at: http://www.ruanghati.com/2011/07/30/felix-y-siauw-curahan-hati-seorang-keturunan-cina-muslim-di-indonesia/
Kamis, 12 Juli 2012
Felix Y. Siauw, Curahan Hati Seorang Keturunan Cina Muslim di Indonesia
Read more at: http://www.ruanghati.com/2011/07/30/felix-y-siauw-curahan-hati-seorang-keturunan-cina-muslim-di-indonesia/
Mengapa Yang Dihancurkan Yahudi Pertama Kali Adalah Wanita?
Ucapan diatas dilontarkan oleh Muhammad Quthb, dalam sebuah ceramahnya puluhan tahun silam. Muhammad Quthb adalah ulama Mesir yang concern terhadap pendidikan Islam sekaligus pemikir ulung abad 20. Ia tidak hanya dikenal sebagai aktivis yang gencar melakukan perlawanan terhadap rezim Imperialisme Mesir, namun juga cendekiawan yang terkenal luas ilmunya.
Beberapa bukunya pun telah beredar di Timur Tengah dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa yang diantaranya adalah Shubuhāt Hawla al-Islām (literally “Misconceptions about Islam”).Hal nahnu Muslimūn (Are we Muslims?). Al-Insān bayna al-māddīyah wa-al-Islām. (Man between the Material World and Islam). Islam and the Crisis of the Modern World dan masih banyak lagi. Maka tak heran, lepas dari penjara ia pun mendapatkan gelar Profesor Kajian Islam di Arab Saudi.
Muhammad Quthb menekankan bagaimana pentingnya peran yang dimiliki seorang ibu dalam Islam. Ibu tidak saja adalah pihak yang dekat secara emosional kepada seorang anak, tapi ia juga memiliki pengaruh besar terhadap masa depan akhlak dari generasi yang dilahirkannya.
Menurut Muhammad Quthb anak yang pada kemudian hari mendapatkan ujian berupa kehancuran moral akan bisa diatasi, asal sang anak pernah mendapatkan pengasuhan ibu yang solehah. Pendidikan Islami yang terinternalisasi dengan baik, akan membuat sang anak lekas bangkit dari keterpurukannya mengingat petuah-petuah rabbani yang pernah terekam dalam memorinya.
Sebaliknya, ayah yang memiliki istri yang sudah rusak dari awalnya, maka ia pun hanya akan melahirkan sebuah keturunan yang memiliki kepribadian persis dengan wanita yang dipinangnya. Sifat alami anak yang banyak mengimitasi perilaku sang ibu akan membuka peluang transferisasi sifat alami ibu kepada anaknya.
Maka kerusakan anak akan amat tergantung dari kerusakan ibu yang mendidiknya. Oleh karena itu, dalam bukunya Ma’rakah At Taqaaliid, Muhammad Quthb mengemukakan alasan mengapa Islam mengatur konsep pendidikan yang terkait dengan arti kehadiran ibu dalam keluarga. Ia menulis:
“Dalam anggapan Islam, wanita bukanlah sekadar sarana untuk melahirkan, mengasuh, dan menyusui. Kalau hanya sekedar begitu, Islam tidak perlu bersusah payah mendidik, mengajar, menguatkan iman, dan menyediakan jaminan hidup, jaminan hukum dan segala soal psikologis untuk menguatkan keberadaannya… Kami katakan mengapa ‘mendidik’, bukan sekedar melahirkan, membela dan menyusui yang setiap kucing dan sapi subur pun mampu melakukannya.”Konsep inilah yang tidak terjadi di Negara Barat. Barat mengalami kehancuran total pada sisi masyarakatnya karena bermula dari kehancuran moral yang menimpa wanitanya. Wanita-wanita Barat hanya dikonsep untuk mendefinisikan arti kepribadian dalam pengertian yang sangat primitif, yakni tidak lain konsep pemenuhan biologis semata.
Dosen dan pelacur bisa jadi sama kedudukannya mirip dengan perkataan Sumanto Al Qurtubhy, kader Liberal didikan Kanada yang berujar, “Lho, apa bedanya dosen dengan pelacur? Kalau dosen mencari nafkah dengan kepintarannya, maka pelacur mencari makan dengan tubuhnya.”
Qurthuby hanyalah muqollid (pengikut) dari Sigmund Freud, psikolog kenamaan asal Austria yang membumikan konsep psikoanalisis. Ia mengatakan ketika dorongan seksual sudah menggelora dalam diri pria maupun wanita, maka sudah selayaknya mereka tuntaskan lewat jalan perzinahan, tanpa harus melalui alur pernikahan. Maka itu Freud menuding orang yang senantiasa menjaga akhlaknya rentan terserang gangguan psikologis seperti neurosis.
Kini Freud memang telah mati, namun gagasan itu membekas dalam pribadi orang Barat. Jika anda kerap menyaksikan berita Olahraga, pembawa acara sering memberitakan bahwa salah seorang pemain sepakbola di Inggris telah memiliki anak dari pacarnya, ya pacar dan bukan istri. Karena konsep pernikahan sudah mendebu di benua biru.
Pasca kematian Freud, muncul banyak pengganti yang tidak lebih ekstrem, salah satunya Lawrence Kohlberg. Ia adalah pengusung metode pendidikan Karakter. Metode ini sudah gagal di Barat dan sekarang diimpor ke negeri-negeri muslim, termasuk Indonesia.
Wajah pendidikan Karakter terlihat manis. Ia mentitah agar para siswa berperilaku jujur dan memegang komitmen. Namun ia tidak memliki dasar agama, jika seorang remaja memilih untuk hidup tanpa tuhan, tidak menjadi persoalan dalam pendidikan karakter, asal itu dapat dipertanggungjawabkan.
Begitu pula masalah hubungan seks. Bagi Kohlbergian, kita tidak boleh menyalahkan seorang anak perempuan yang hamil di luar nikah, sebab masalah baik atau buruk menjadi relative. Pendidikan Karakter pun tidak boleh menghakiminya, karena anak akan jatuh salah jika ia tidak bisa mempertanggungjawabkan hubungan seksnya. Jadi jika remaja perempuan hamil masih bisa terbebas dari “dosa”, asal ia siap menjadi ibu. Urusan benar atau salah tergantung tanggung jawab, bukan agama.
Maka tak heran, ketika Lawrence Kohlberg lebih memilih bunuh diri dengan menyelam di laut yang dingin pun disambut gembira oleh masyarakat Barat. Alasannya bisa membuat kita sebagai umat muslim tertawa: Kohlberg telah memilih jalan yang memang ia kehendaki. Ya terlepas dari dia yang akan masuk neraka jahnam. Sebuah metode berfikir yang terlalu konyol untuk kita fahami.
Kita kembali lagi ke masalah perempuan. Kehidupan Barat yang bebas sejatinya diawali dari kehendak dari kalangan wanita untuk hidup bebas dan meredeka sesukanya. M. Thalib, cendekiawan muslim yang telah menulis puluhan buku tentang pendidikan Islam juga menekankan bagaimana proyek Zionis dibalik wacana pembebasan wanita di Barat. Menurutnya kaum Yahudi memiliki peran kuat dibalik slogan Liberty, Egality dan Fraiternity (kebebasan, persamaan dan persaudaraan) kepada bangsa Perancis.
Hal ini dipropagandakan oleh Zionis dan disebarkan ke penjuru dunia hingga kita bisa merasakan apa yang disebut Hak Asasi Manusia dan Feminisme pada saat ini. Dalam bukunya, “Pergaulan Bebas, Prostitusi, dan Wanita”, M. Thalib menulis,
“Slogan-slogan inilah yang membuat orang-orang bodoh turut serta mengulang-ulanginya di seluruh penjuru dunia di kemudian hari, tanpa berfikir dan memakai akalnya lagi.”
Mungkin terasa ganjil bagi kita, mengapa Yahudi sebagai bangsa yang pongah begitu takut dengan perempuan? Jawabannya sederhana: membiarkan seorang wanita tumbuh menjadi solihah adalah alamat “kiamat” bagi mereka.
Jika seorang ibu yang solehah bisa mengasuh 5 anak muslim di keluarganya untuk tumbuh menjadi generasi mujahid. Kita bisa hitung berapa banyak generasi yang bisa dihasilkan dari 800 juta perempuan muslim saat ini?
Seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah, “Siapakah manusia di muka Bumi ini yang harus diperlakukan dengan cara yang paling baik ?”. Rasul menjawab, “Ibumu”. “Setelah itu siapa lagi ya Rasul”. Sekali lagi Rasul menjawab, “Ibumu”. Sahabat bertanya kembali, “Kemudian siapa?”. Lagi-lagi Rasul menjawab “Ibumu, baru Ayahmu”. [Shahih, Diriwayatkan oleh Imam Bukhari).
oleh: Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi
sumber: Eramuslim
Belajar Ditolak Cinta dari Sayyid Quthb
Dialah Ulama dan Mujahid yang berani mendobrak hegemoni Sosialisme Mesir. Tumbuh dalam rimba kejahillayahan modern dan bergeming untuk turut andil melestarikannya. Walau kesenangan itu sudah berada di depan matanya. Walaupun tahta sudah siap menampuk tubuhnya. Kursi-kursi dunia itu disediakan untuk Sayyid Quthb asal ia bersedia mengakui bahwa kedaulatan Islam belumlah final. Bahwa sistem buatan manusia adalah jalan suci. Parlementari merupakan paras molek membangun kejayaan hidup. Namun apa kata Sayyid? Ia menolaknya. Baginya, rasa sosialisme, nasionalisme, bahkan demokrasi lebih pahit dari kehinaan dunia: sumir!
Sayyid Quthb menolak menafsirkan kata tauhid hanya sekedar pengakuan lisan bahwa Allah adalah Tuhan. Doktor Sastra dari Darul Ulum ini mempelajari Qur’an lebih mendalam, dan ia menyimpulkan bahwa makna tauhid lebih dari itu. Baginya tauhid sudah satu paket dengan keharusan menjalankan hukum-hukum Allah (baca: tauhid hakimiyyah) dan menolak bergabung dalam barisan oposisi tauhid. Memaknai tauhid dalam dua jurang antara al-haqq dan al-bathil yang coba disatukan adalah barisan absurditas yang sama sekali tidak akan mampu membawa Islam jaya. Meskipun itu demi “maslahat dakwah”. Sekalipun itu memakai “baju” Islam. Sayyid sudah tahu ukuran “baju” apa yang pas baginya, tidak lain adalah pengakuan Allah sebagai satu-satunya Tuhan dan kewajiban untuk mengindahkan pencampuran antara hukum Allah dengan hukum positif (baca: hukum buatan manusia). Untuk menyadarkan saudara-saudaranya, sampai-sampai ia harus menulis satu bab penuh dalam buku Dirosah Islamiyah-nya, “Ambil Islam seluruhnya atau tidak sama sekali!”
Ya Sayyid Quthb, dia bukanlah ikhwan pada umumnya. Ia bukan juga ikhwan yang mudah disetir. Membolak-balik tafsir Qur’an demi tujuan dunia. Duduk satu meja dengan musuh-musuh tuhannya, dan keluar dengan titah bahwa Islam boleh disisipi dengan isme lainnya. Itu sama saja memalukan Umat Nabi Muhammad saw. Baginya, pengalaman meneliti kebobrokan sistem pendidikan dan moral di Amerika sudah memberinya kesimpulan bahwa Islam adalah satu-satunya jalan. Bagi Quthb, produk Undang-undang buatan manusia tidak akan pernah bisa sama sekali mengantarkan manusia ke jalan Tauhidullah. Parlemen adalah ruangan tergelap di dunia, dimana ketika manusia memasukinya, ia akan tersesat dan sulit untuk mencari pintu keluar.
Mesir menjadi murka. Negara dengan cap Musolini rasa Arabia itu, meminta hidup Sayyid segera diakhiri. Apapun resikonya. Sayyid adalah bedebah bagi tirani sekularisme, namun angin semilir dalam bumbu jihadi yang menyejukkan dan mustahil berganti. “Selamat datang kematian di jalan Allah, selamat datang kehidupan abadi” ucap Sayyid dalam detik-detik menjelang syahidnya di tiang gantungan.
Perjalanan Cinta Sayyid Quthb: Jatuh Bangun Menjemput Kasih Sayang Allah
Namun dalam deretan kisah heroik itu Sayyid tumbuh dalam bingkai manusia natural. Pemuda yang memiliki niat untuk menikah memang banyak, tapi menikah dengan cara Islam dan memulai prosesnya lewat jalur tunggal berupa keikhlasan sebagai manifestasi cinta kepada Allah adalah minimum. Cinta menjadi dua sisi mata uang dalam kehidupannya: kesedihan dan ketakwaan. Tapi Sayyid Quthb tetap tegar, sekalipun dirinya mengalami dua kali jatuh cinta dan dua kali patah hati.
Seperti dikutip dari berbagai penulis yang mengambil kisah kehidupan Cinta Sayyid Quthb pada sebuah tesis mengenai dirinya, kisah cinta Quthb berjalan pertama kali saat seorang gadis datang mengetuk pintu hatinya. Dialah gadis pertama yang membangkitkan kerinduan Sayyid untuk menautkan cintanya. Embun cinta itu datang dari desa kelahiran. Namun tiga tahun sejak beliau harus menjauhkan raganya dari gadis pujaan ke Kairo untuk menuntut ilmu agama, gadis tersebut ternyata memilih menyerahkan cintanya kepada orang lain. Sayyid merasa terpukul mendengar berita ini. Tak kuasa menahan sedih, seguk tangis tak terbendung. Sangat dimaklumi bagaimana rasanya merelakan kepergian embun cinta pertama yang pernah mengisi relung jiwanya, yang pernah melambungkan asa dan melejitkan potensi kebaikannya. Cinta pertama memang indah, namun sakitnya menusuk ulu hati hingga menganga.
Embun cinta kedua lahir, menyejukkan dan membangkitkan kembali kerinduaan jiwa Sayyid untuk menautkan cintanya karena kecintaan kepada Allah. Gadis kedua ini berasal dari Kairo. Mengenai gadis ini sang Sayyid pernah menggambarkan bahwa paras gadis ini tidaklah buruk namun gagal untuk dibilang cantik. Nampaknya ada pesona lain yang memikat Sayyid sehingga merindukannya. Mungkin tatapan menyejukkan yang dibawa embun cinta ini. Sayangnya, lagi-lagi takdir tidak bermurah hati dengan cinta sang Sayyid. Di hari pertunangannya, Sayyid seakan disambar petir, pasalnya gadis tersebut sambil menangis menceritakan bahwa Sayyid adalah orang kedua yang hadir dihatinya. Perkataan gadis itu seakan meruntuhkan harapan sang Sayyid untuk mendapatkan gadis yang perawan fisiknya, perawan juga hatinya.
Sayyid akhirnya memutuskan hubungan dengan gadis Kairo tersebut, pergi membawa raganya jauh dari embun cintanya. Raga Sayyid boleh saja menjauh, namun jiwanya ternyata tak mampu melepaskan pesona sang embun cinta. Selanjutnya apa yang terjadi? Sayyid tenggelam dalam penderitaan jiwa yang selalu dibawa atas nama cinta. Kesedihan bercampur kerinduan ternyata lebih menyiksa Sayyid dibanding goresan pedang yang menyayat tubuhnya. Akhirnya Sayyid mengorbankan idealismenya kemudian pergi menjemput dan rujuk kembali dengan gadis pembawa embun cinta tersebut. Namun sayang, kali ini gadis itulah yang menolak cinta sang Sayyid.
Perih bukan main gejolak rasa yang dialami Sayyid. Ada banyak puisi yang lahir dari penderitaan yang dirasakan Sayyid tersebut. Bahkan tercipta roman-roman yang merupakan bayang-bayang romansa cinta tersebut. Inilah peristiwa kedua yang membuat luka batin sang Sayyid. Saat harapannya menggantungkan cinta terputus oleh kekuasaan takdir. Menorehkan luka yang menganga menabur kepedihan.
Namun bukan Sayyid Quthb namanya bila beliau harus hancur gara-gara cintanya yang terhempas takdir. Dengan kebesaran hati dan sikap husnudzon terhadap takdir Allah, tanpa menafikkan kesedihan yang melanda hatinya, beliau berujar kepada sang Pemilik takdir “Apakah dunia tidak menyediakan gadis impianku? Ataukah pernikahan tidak sesuai dengan kondisiku?”. Saat cinta yang dirindu tak kunjung menerimanya, maka beliau menggantungkan seluruh cintanya pada Dzat yang selalu mencintainya, yang cintanya tidak akan pernah terputus, yang cintanya kekal abadi. Cintanya Allah. Ya, Allah. KepadaNyalah beliau menumpah ruahkan seluruh cinta dan mimpi-mimpinya yang tertolak takdir, sambil berlari menjemput takdirnya yang lain.
Yang luar biasa adalah, Asy-Syahid sadar dirinya berada dalam realitas. Bukan dalam dunia ideal yang melulu posesif, indah dan tanpa aral. Kalau cinta tak mau menerimanya, biarlah ia mencari energi lain yang lebih hebat dari cinta. Ternyata energi tidak jauh-jauh dari kehidupannya, Allah lah Energi yang kemudian membawanya ke penjara selama 15 tahun. Dan di penjara itulah beliau dengan gemilang berhasil menulis tafsir Fi Dzhilalil Qur’an dengan cinta. Sebelum akhirnya harus meregang nyawa di tiang gantungan. Sendiri! Dengan cinta yang sudah tertumpah ruah semua untuk Rabbnya, hanya kepada Rabbnya.
Bahkan dalam novel Duri Dalam Jiwa yang ditulis Sayyid pada tahun 1947 sebelum Sayyid Quthb bergabung dalam gerakan Ikhwanul Muslimin. Sayyid sukses menunjukkan kepiawaiannya dalam mengolah kata dan menyajikan konflik yang pekat dengan empati, melibatkan ilmu jiwa dan penghayatan mendalam. Sulit untuk berhenti sejenak membacanya karena takut kehilangan feel yang telah didapat. Dalam novel ini kita diajak untuk merasai lika-liku perasaan manusia dalam mengolah suatu rasa yang disebut cinta, cinta antar manusia. Kita diajak menyelami dalamnya cinta dan kebodohan sekaligus tarikan magnetisnya. Kita diajar untuk menjadi pecinta sejati yang tidak takut untuk berproses mengubah rasa tidak suka menjadi rasa suka, benci menjadi cinta.
“…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah Maha Mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2] : 216)
Begitu dalam dan lembutnya Sayyid Quthb dalam bermain kata, pembaca mungkin memerlukan pikiran jernih untuk menangkap pangkal konflik. Mengutip dari pengantar dalam buku ini, di dalam novel ini, Sayyid Quthb secara halus dan lembut mengisyaratkan betapa pentingnya arti keperawanan seorang gadis, karena begitu hal ini diragukan maka persoalan pelik pun akan muncul. Ada perasaan terhina dan luka hati bagai tertusuk duri dan dapat menjadi beban sepanjang hidup.
Membaca buku ini menjadi suatu kenikmatan tersendiri. Begitu banyak hikmah implisit dalam tiap lika-liku perasaan para tokoh yang dihadirkan: cinta, kejujuran, ketulusan, pengorbanan, kepasrahan, dan keberanian.
Problematika Cinta: Sebuah Refleksi
Kita mungkin pernah sama-sama merasakan layaknya seperti Sayyid Quthb bahwa ada suatu fase dalam hidup kita saat dimana pikiran, hati, kaki, tangan, dan jiwa kita disinggahi oleh cinta. Bahkan kita juga sempat mencicipi bagaimana segala kebahagiaan hidup ditentukan dari kesuksesan cinta dalam balutan standar manusia. Pada konten ini kemudian cinta berubah menjadi sayembara yang kerap melontarkan kata-kata penjara jiwa seperti “Hidup kita hancur tanpa keberhasilan menaklukan cinta”. Sedangkan, remaja kerap berkata, “Jika mempunyai kekasih, belajar rasanya akan lebih termotivasi”. Malah bisa jadi ada sumpah serapah yang terlontar kepada laki-laki atau perempuan yang telah mengkhianati cinta kita. Ikhwatifillah, tanpa disadari ternyata kita sudah meletakkan sesuatu yang pasti kepada manusia yang lemah, individu yang justru tak tahu masa depan itu sendiri!
Ketika kita mulai menjajakan cinta dan menggantungkan harapan cinta itu kepada manusia, yakinlah ikhwah, yang ada hanyalah kekecewaan, karena kemampuan manusia sangatlah terbatas. Ia tidak bisa memastikan, lebih-lebih menjadi penentu takdir kita. Padahal manusia tetaplah manusia dengan segala kelemahannya. Adagium, sepandai-padaninya tupai melompat akhirnya jatuh juga bukan sekedar pepatah dalam rangka mengingatkan ikhtiar manusia, karena pada kenyataannya, Allah telah menggariskan kemampuan manusia jauh sebelum adagium itu hadir. “Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah.” (QS. An-Nisa [4] : 28).
“Allah telah menciptakan kalian lemah, kemudian menjadi kuat, lalu setelah kuat kalian menjadi lemah dan tua.” (QS. Rum [30] : 54).
Bahkan pada momentum ayat yang lainnya, Allah dengan terang-terangan mengidentifikasikan manusia dalam keadaan yang begitu rentan terhadap hati. Dalam surah ke 70 ayat 19, Allah berfirman: “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir”,
Tidak berakhir di situ, kemudian Allahpun menjelaskan lagi perihal makhluk hidup yang akan membuat kita terangsang untuk lekas mengintropeksi diri, muhasabah, dan kembali kepada khittah kehidupan cinta, yakni firman yang berbunyi selang dua ayat berikutnya, “dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir”.
Ada banyak varian dari timbulnya problematika cinta, salah satunya bagaimana kita salah mengelola qalbu dalam cinta. Qolbu adalah wilayah yang urgen dalam kehidupan, hingga Rasulullah saw pernah mengeluarkan hadisnya yang menyentuh,
“Ketahuilah sesungguh dalam jasad ada segumpal darah. Jika ia baik seluruh jasad akan baik pula. Jika ia rusak maka seluruh jasad akan rusak. Ketahuilah bahwa itu adalah qalbu.”
Banyaknya manusia yang terpuruk dalam cinta dan dikuasai hawa nafsu tak lepas karena kita telah menggantungkah harapan kepada selain Allah. Merasa diri sombong dengan meletakkan ayat-ayat ilahi sebagai prioritas kedua dalam mengatasi permasalahan kita.
Salah Satu Kunci Kenyamanan Hidup Dimulai Dari Bagaimana Kita Mampu Membangun Suasana Hati
Saudaraku, belajar dari kisah cinta Sayyid Quthb, percayalah bahwa hati yang cemas, kikir, gelisah, kotor, dan merasa lelah menjalani hidup, dikarenakan kita sudah meletakkan standar-standar duniawi sebagai syarat kebahagiaan hakiki. Kita rela menyiksa hidup dengan syarat-syarat wahn yang sebenarnya tak bisa kita lakukan. Kalau kita mau jujur, kesemua itu malah jauh dari sumber kebahagiaan yang sebenarnya, yakni ketenangan hati untuk bagaimana kita selalu berusaha dekat dengan Allah.
Saudaraku, Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu pernah berkata bahwa “Tidak sempurna keselamatan qalbu seorang hamba melainkan setelah selamat dari lima perkara: syirik yang menentang tauhid, bid’ah yang menyelisihi As-Sunnah, syahwat yang menyelisihi perintah, kelalaian yang menyelisihi dzikir dan hawa nafsu yang menyelisihi ikhlas.” Hamba yang memiliki qalbun salim akan selalu mengutamakan kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia yang mana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mempersiapkan tempat di surga.
Saudaraku, salah satu kunci kenyamanan hidup dimulai dari bagaimana kita mampu membangun suasana hati. Jika hati kita ikhlash dan bersih dengan penuh ketawadhuan, sesuatu yang kita pandang hina jadi sedemikian mulia, yang tadinya kita pandang kurang ternyata teramat cukup, sesuatu yang kita lihat kecil dan tak berdaya berubah jadi sangat besar dan penuh makna, dan apa yang kita lihat sedikit, ternyata terlampau banyak. Dan itu di mulai dari bagaimana kita hanya bergantung kepada Allah dan menjadi Allah sebagai satu-satunya zat yang mampu membuat kita bangkit setelah terjatuh.
Sekarang pertanyaannya apakah kita mau melepaskan segala ukuran ideal kehidupan kita, kesombongan kita atas pilihan yang jauh dari genggaman kesanggupan kita. Kini, apakah kita juga rela berhenti sejenak melepas atribut keduniawian kita untuk menghadap one by one dengan Allah dengan berkata jujur di depan SinggasanaNya. Jika kita berani, rasakanlah ada aliran kesejukan dan ketenangan yang sebelumnya tidak kita rasakan. Ia menentramkan. Ia pun mampu merubah paradigma kita tentang cinta, hidup, dunia, ujian, dan sebagainya sama sepertia yang Sayyid Quthb rasakan. Jika kita masih bergeming, yakinlah sebenarnya itu kembali kepada diri kita pribadi.
“Maka apabila hari kiamat telah datang. Pada hari ketika manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya. Dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada tiap orang yang melihat. Adapun orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia maka sesungguh nerakalah tempat tinggalnya. Dan adapun orang yang takut kepada kebesaran Rabb dan menahan diri dari keinginan hawa nafsu maka sesungguh surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An-Naziat [79] : 34-42)
Wallahua’lam. Ciracas, 18 September, 2010. Pukul 01.00 WIB
Selasa, 01 Mei 2012
Penggelembungan Harga Sukhoi
Lebih jauh Indonesia Corruption Watch (ICW) mensinyalir terdapat pelibatan pihak ketiga dalam pembelian enam pesawat tempur Sukhoi jenis SU-30 MK2 dari Rusia JSC Rosoboronexport Rusia yang diageni PT Trimarga Rekatama.
Akibatnya, harga per unit Sukhoi melambung dari 55 juta dollar AS pada 2010 menjadi 83 juta dollar AS pada 2011. Dari skema pembiayaan dengan kredit ekspor, menurut ICW, agen mendapatkan fee 15-20 persen dari harga barang sehingga potensi kerugian negara lebih dari Rp 1 triliun.
Wilayah tertutup
Korup di area tertutup bidang pertahanan telah menjadi momok lama setiap negara. Dugaan itu sah-sah saja sebab pengadaan barang dan jasa yang berlangsung secara terbuka saja bisa diakal-akali, bagaimana dengan pembelian barang berteknologi super yang notabene berada di wilayah yang terlindung oleh pengecualian dalam UU Keterbukaan Informasi Publik?
Berdasarkan Pasal 7 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, dokumen yang memuat tentang strategi intelijen, operasi, teknik, dan taktik yang berkaitan dengan penyelenggaraan sistem pertahanan dan keamanan negara yang meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, dan pengakhiran atau evaluasi merupakan salah satu dari sekian banyak informasi yang dikecualikan.
Demikian juga tentang jumlah, komposisi, disposisi atau dislokasi kekuatan dan kemampuan dalam penyelenggaraan sistem pertahanan dan keamanan negara serta rencana pengembangannya merupakan hal yang kerahasiaannya dilindungi berdasarkan UU Keterbukaan Informasi Publik.
Namun, bagaimana upaya pencegahan terjadinya korupsi di area tertutup seperti dalam kasus pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) tersebut? Tentunya kebijakan itu tidak cukup hanya sampai pada tataran instruksi presiden atau sebatas MOU atau kesepakatan bersama antara Kementerian Pertahanan dan Komisi Pemberantasan Korupsi yang ditandatangani November 2010 lalu.
Besarnya kemauan politik dari pemerintah untuk memajukan industri pertahanan nasional dengan mengalokasikan 50 persen dari total anggaran pertahanan sebesar Rp 64,4 triliun untuk alutsista harus diikuti dengan upaya penciptaan sebuah sistem pencegahan dini terhadap tindak pidana korupsi di bidang pertahanan. Sistem pencegahan dini tindak pidana korupsi tersebut harus diadopsi secara komprehensif dan tegas dalam sebuah peraturan perundang-undangan.
Dalam tataran praktik, Menteri Pertahanan melalui Keputusan Nomor KEP/07/M/I/2011 tentang pembentukan tim Konsultasi Pencegahan Penyimpangan Pengadaan Barang/Jasa (KP3B) Kementerian Pertahanan dan TNI yang dikeluarkan pada 6 Januari 2011 berupaya mengawasi pengadaan barang dan jasa, mulai dari tahap perencanaan hingga evaluasi kegiatan. Akan tetapi, bagaimanakah tingkat efektivitas dari kinerja tim yang berada di bawah sebuah kementerian jika pengadaan barang dan jasa yang diawasinya melibatkan sejumlah jabatan yang berada satu tingkat yang sama atau bahkan di atasnya?
Untuk itu, perlu diciptakan sebuah mekanisme pengawasan dan pemantauan terhadap pelaksanaan kebijakan industri pertahanan dan keamanan yang komprehensif dan sistemis. Di AS, misalnya, diterapkan kebijakan Local Commanders Open Door Policy, Commanding General Open Door Policy, Whistle Blowers Act, Hot Lines: Commanding General Hot-Line, Military Police Hot-line, Criminal Investigative Detachment Hot-line, dan the DOD Hot-line, serta NCO Support Channel.
Bagaimana dengan Indonesia? Meski Indonesia telah memiliki UU Perlindungan Saksi dan Korban, tingkat efektivitas dari pelaksanaan UU tersebut masih menjadi pertanyaan. Lantas dapatkah keberadaan tim-tim di bawah sebuah kementerian cukup menjadi senjata ampuh untuk tindak pidana korupsi di bidang pertahanan?
Keberadaan KPK merupakan institusi yang bersifat reaktif, bukan preventif. Karena itu, pengaturan tentang Komite Kebijakan Industri Pertahanan dan Keamanan (KKIP) yang bertugas mengoordinasikan perumusan, pelaksanaan, dan pengendalian kebijakan nasional industri pertahanan dan keamanan dalam RUU tentang Industri Pertahanan dan Keamanan perlu dirumuskan secara komprehensif dan tegas sehingga mampu menciptakan sebuah sistem pengawasan yang melekat di bidang pertahanan dan keamanan.
Terpusat
Namun, sayangnya pengaturan KKIP dalam RUU tersebut bersifat terpusat. Struktur KKIP diketuai oleh wakil presiden dan wakilnya adalah menteri yang membidangi urusan pertahanan.
Keanggotaan utama KKIP terdiri dari menteri yang membidangi urusan badan usaha milik negara; menteri yang membidangi urusan perindustrian; menteri yang membidangi urusan riset dan teknologi; menteri yang membidangi urusan pendidikan; menteri yang membidangi urusan komunikasi dan informatika; menteri yang membidangi urusan keuangan; menteri yang membidangi urusan perencanaan pembangunan nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional; Panglima Tentara Nasional Indonesia; dan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia. Keanggotaan pendukung KKIP berasal dari unsur perguruan tinggi.
RUU tentang Industri Pertahanan dan Keamanan tidak mengatur dengan jelas bagaimana mekanisme kerja KKIP dalam melakukan pengawasan hanya diserahkan melalui pembentukan peraturan presiden. Lantas bagaimana jika dalam sebuah kasus, penyimpangan pengadaan atau produksi dalam industri pertahanan dan keamanan terjadi karena tindakan penyimpangan tersebut diambil berdasarkan ketentuan lain yang ada dalam sebuah UU?
Selain itu, RUU Industri Pertahanan Keamanan hanya mengatur tentang tugas KKIP dan tidak memberikan penegasan tentang kewenangan yang dimiliki KKIP. Apakah KKIP tidak akan menjadi macan ompong lainnya seperti Komisi Penyiaran Indonesia? Karena itu, perlu dirumuskan secara tegas dan komprehensif tentang kewenangan serta mekanisme kerja KKIP sehingga dapat menjadi alat yang efektif untuk mencegah terjadinya korupsi di area tertutup bidang pertahanan.
Sebagaimana dimuat dalam Kompas, Sabtu, 24 Maret 2012
Senin, 27 April 2009
Manohara dan KDRT
Manohara. Nama wanita cantik yang pernah menjadi model, keturunan Indonesia-Perancis itu mendadak menjadi terkenal lantaran isu kekerasan dalam rumah tangga yang dialaminya. Ternyata menikah dengan laki-laki dari keluarga “baik-baik” tidak menjadi jaminan akan kebahagiaan. Di balik sosoknya yang bersahaja, ternyata Mr.T mampu melakukan aksi KDRT terhadap Manohara.
KDRT, ternyata meski telah menjadi concern bersama, namun toh dalam kehidupan sehari-hari KDRT tetap saja terjadi, seperti yang terjadi pada Manohara.
Jika akhirnya Bunda Manohara memilih melakukan perlawanan, keputusan itu sangat dapat dipahami. Sebab terkadang si korban KDRT sendiri tak mampu lagi untuk berteriak. Lantas sejauh apa “pemberantasan” tindak KDRT di Indonesia ? Ternyata meski KDRT telah diangkat permasalahannya menjadi sebuah undang-undang namun tetap saja korban-korban KDRT lebih memilih bungkam, ketimbang menyelesaikan permasalahan KDRT secara hukum. Begitu pula keluarga terdekat mereka yang telah melihat atau mengetahuinya terjadinya KDRT tersebut.
Alasannya sangat jelas, keutuhan rumah tangga selalu dikaitkan dengan harga diri seorang di mata masyarakat. Sebab wanita, sudah ditakdirkan untuk bersikap nrimo, sabar.
Ironisnya, aksi bungkam juga dilakukan oleh para istri korban KDRT yang tergolong pelajar. Sebab mereka mengkhawatirkan, aksi pelaporan, atau tindakan perlawanan terhadap KDRT yang dilakukan suaminya dapat mempengaruhi kondite mereka. Mereka memilih bungkam lantaran takut kariernya akan mendapat imbas yang negatif.
Berikut beberapa hal yang dapat melatar belakangi terjadinya KDRT khususnya yang dilakukan oleh para suami :
1. Trauma masa kecil (suami kerap melihat KDRT yang dilakukan Sang Ayah kepada Bunda nya tanpa adanya perlawanan).
2. Ada WIL (Wanita Idaman Lain).
3. Kedudukan istri lebih tinggi dari suami (mungkin ada beberapa pria yang sanggup menerima kenyataan istri memiliki kedudukan, baik jabatan, pendidikan maupun kekayaan lebih tinggi dari suami, namun pada dasarnya sifat dasar laki-laki yang tak mau di ungguli tetap akan menjadi problema).
4. Perangai / Sifat yang terbentuk sejak kecil (sebab pengakuan bahwa sikap kasar merupakan sifat mereka kerap muncul dari para pelaku tindak KDRT.)
5. Keinginan untuk mendominasi dan memiliki yang berlebihan (termasuk didalamnya sikap posesif/cemburu yang berlebihan).
6. Keinginan untuk menunjukkan kekuasaannya.
7. Posisi atau kedudukan suami mendadak naik.
8. Ego sentris atau tingkat ego yang lebih tinggi dari ambang batas normal.
Serta beberapa alasan lainnya.
Apakah pria yang memiliki bakat sebagai pelaku KDRT dapat dikenali ? Sangat sulit. Sebab mereka terkadang mampu menyembungikan bakat terpendam mereka dengan begitu rapatnya sehingga tak dapat terbaca oleh pasangannya. Namun setidaknya beberapa hal yang melatarbelakangi terjadinya KDRT tersebut sedikit banyak dapat memberikan warning kepada para wanita untuk mempertimbangkan masak-masak sebelum menerima seseorang untuk menjadi pendamping hidupnya.
Tetapi ada beberapa hal yang dapat diamati secara fisik maupun dari tindak tanduk maupun latar belakang keluarga laki-laki cenderungyang memiliki bakat melakukan tindak KDRT, yaitu sebagai berikut :
- Dominasi ayah dalam keluarganya sangat kuat. (:Keluarga dimana laki-laki pelaku tindak KDRT biasanya tergolong keluarga “baik-baik, beragama” namun dalam tataran normatif. Artinya, keluarga itu tampaknya selalu mengedepankan dilaksanakannya prinsip-prinsip keimanan, keTuhanan, namun tidak memahami maknanya ).
- Hubungan antara ayah/ibu dan anak terdapat jarak (:biasanya keluarga dimana dimana laki-laki pelaku tindak KDRT biasanya hanya bersifat formal, antara ayah/ibu dengan anak jarang terlihat curhat atau saling menyatakan perasaan secara terbuka)
- Keakraban keluarga hanya sebatas formalitas. (:tidak ada ikatan emosional, hanya sebatas dilaksanakannya kewajiban saja.
- Dari kepribadian tidak ada tanda-tanda khusus, namun melalui pengamatan, biasanya jika laki-laki pelaku tindak KDRT yang pendiam dia akan terlihat sedikit posesif, selalu ingin melindungi, selalu ingin berada di dekat pasangannya...Namun jika dimana laki-laki pelaku tindak KDRT bersifat ceria, akrab dan mudah bergaul, maka dia dapat terlihat dari sikap dia menghadapi orang lain. Pertama kali ketemu dengan seseorang, dia akan terlihat sangat cepat akrab dan mudah bergaul. Namun pada pertemuan berikutnya dia akan terlihat cuek dan tidak perduli.
- Suka melanggar lampu merah. Laki-laki pelaku tindak KDRT biasanya suka melanggar lampu merah sebab baginya, tidak ada sesuatu peraturan apa pun yang tidak dapat dilanggar. Melanggar lampu merah juga merupakan cerminan sikap ego sentris yang lebih tinggi dari batas normal.
- Cenderung tidak sabaran, grusa-grusu.
- Sangat bergantung pada anda, baik pada saat pacaran maupun sesudah menikah.
- Kadang terlihat sangat childish, manja
- Semasa muda/bujang suka menghabiskan waktu untuk kongkow2, gaplek, kumpul dengan teman-teman, bila perlu melakukan perjalanan jauh beramai2.
- Biasanya laki-laki pelaku tindak KDRT tidak memiliki sahabat karib cewek. Berdasarkan pengamatan, laki-laki yang memiliki sahabat karib cewek cenderung bersikap gentle, dan penyayang.
Lantas bagaimana sikap kita seharusnya jika ternyata pasangan kita merupakan laki-laki pelaku tindak KDRT ??
1. Jika hubungan itu masih dalam taraf pacaran, segera tancap gas....segera putuskan hubungan anda. Dengan alasan apa pun juga, tak seharusnya laki-laki tega memukul/menampar seorang wanita yang katanya dia cintai. Tak usah menangisi cinta anda. Sebab resiko yang harus anda jalani sangat berat.
2. Jika anda mengetahui perangkai pasangan anda di tengah-tengah perkawinan, segera lakukan gugatan cerai, kecuali anda merasa mampu bersikap sabar. Jika memang anda ingin mempertahankan perkawinan anda, sebaiknya anda jangan menceritakan tindak KDRT suami anda kepada orang tua Anda, sebab berdasarkan pengamatan, tidak ada satu orang tua pun yang rela anak yang sudah mereka besarkan dengan susah payah ditampar, atau dibentak. Sebab berdasarkan pengamatan, minimal 10 tahun lamanya waktu yang dibutuhkan untuk melihat sedikit perubahan pada laki-laki pelaku tindak KDRT, dan biasanya sangat sulit menghilangkan tindakan KDRT – tak peduli kali-laki itu mengaku beriman atau tidak – sebab itu seperti kebiasaan yang mendadak selalu muncul setiap saat tanpa dapat diduga...
3. Bagaimana jika anda sudah terlanjur mencoba bertahan lebih dari 5 tahun dari usia pernikahan anda dan anda sudah terlanjur memiliki anak-anak dari pasangan anda ????
- pertama amati, apakah tindak KDRT itu menimpa anak anda tidak. Berdasarkan pengamatan, biasanya laki-laki pelaku tindak KDRT juga tidak sabar menghadapi polah tingkah anak kecil biar pun itu adalah anaknya sendiri. Tak jarang mereka sesekali memukul kaki, melempar sandal, atau membentak anaknya.
- Amati perkembangan anak anda, jika anak anda mengatakan, “Mengapa sih mama tidak kawin lagi saja, “ artinya lampu hijau buat Anda, sebab kesabaran si anak juga sudah berada di ambang batas.
- Amati perkembangan psikologis suami anda selaku laki-laki pelaku tindak KDRT, apakah ada perkembangan yang cukup berarti (namun biasanya perkembangan ini sangat lambat....dan nyaris tidak dapat diharapkan).
- Jika pada akhirnya anda memutuskan untuk bercerai setelah sekian lama menahan diri, maka fase berikutnya yang harus anda pertanyakan, persiapkan adalah :
1. kesiapan anak-anak anda, berikan pengertian bahwa Ayahnya tetap adalah seorang ayah yang baik, agar tidak menimbulkan ekses negatif.
2. Kedua, berikan pengertian yang tepat kepada orang tua kedua belah pihak dan minta dukungan mereka.
3. Dapatkan kesepakatan dengan suami tentang batasan-batasan setelah anda nanti bercerai agar kelak dia tidak menjadi duri dalam daging bagi kehidupan anda. Bila perlu kesepakatan itu tertuang hitam di atas putih.
4. Siapkan mental anda untuk menghadapi sikap orang-orang disekitar anda, baik itu di tempat tinggal maupun di kantor. Sebab bagaimana pun juga masyarakat kita tetap belum dapat sepenuhnya menerima perlawanan seorang istri yang menjadi korban tindak KDRT.
Namun ingat!!! Suami anda pasti tidak akan membiarkan anda melenggang begitu saja, dia pasti akan mati-matian mempertahankan anda, baik dengan cara berubah menjadi anak yang sangat manis, hingga mengunakan kekerasan, ancaman bahwa hak asuh anak-anak akan dia kuasai. Sebab pada dasarnya suami pelaku tindak KDRT sangat bergantung pada anda. Dia sangat membutuhkan anda, dan dia juga sadar tak ada wanita lain yang sanggup bertahan dengannya.
4. Bagaimana jika anda merasa tidak mampu melakukan perlawanan sebab karena kondisi dan situasi yang tidak memungkinkan, misalnya keluarga anda melarang, atau bahkan mungkin anda takut karier anda mendapat pengaruh negatif??? Pasrah saja....berdoa....minta agar Tuhan melembutkan hatinya. Setidaknya menguatkan hati anda. Namun jangan sekali-kali anda menceritakan tindak KDRT suami anda kepada rekan sekerja yang tidak dapat dipercaya, sebab itu hanya akan menjadi bumerang bagi anda. Selain duka anda dapat dijual sebagai komoditas politik untuk menjatuhkan karier anda, anda juga dapat dijadikan bahan gosip.
Sekali lagi ini hanya berdasarkan pengamatan dan survei terbatas berdasarkan beberapa kisah. Akurasi yang tidak tepat dan kesalahan dari pengamatan sangat mungkin terjadi. Namun setidaknya dapat dijadikan bahan perenungan agar kaum wanita tidak terjerumus pada jurang yang mengerikan. Sebab akibat KDRT kadang tidak dapat terlihat oleh mata, dampak psikologis, seperti perasaan un happy, menderita, kesepian hingga rasa putus asa jauh lebih mengerikan daripada luka-luka fisik yang nyaris tak terlihat.
**) Catatan ini telah dimoderasi dan dimuat di http://public.kompasiana.com
SURAT TERBUKA KEPADA CAPRES DAN CAWAPRES
Kepada Yang Terhormat.
Bapak/Ibu Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden
Di Tempat
Dengan hormat,
Melalui surat ini, saya seorang rakyat biasa, yang sudah letih menunggu akhirnya memberanikan diri untuk mengirim surat ini secara terbuka kepada Bapak/Ibu Yang Terhormat. Mohon kiranya surat ini tidak ditanggapi secara emosional, ataupun melihatnya dari kacamata dimana Bapak/Ibu Yang Terhormat berada saat ini. Dengan kerendahan hati pula saya memohon, untuk sekali ini saja, Bapak/Ibu Yang Terhormat rela melepaskan kedudukan,posisi, kehormatan Bapak/Ibu Yang Terhormat, untuk membayangkan sejenak, andai Bapak/Ibu Yang Terhormat berada pada posisi kami, rakyatmu….yang telah sekian lama dengan sabar menunggu sentuhan kasih sayangmu sebagai para pemimpin bagi negeri ini.
Bapak/Ibu Yang Terhormat, mohon maaf, jika saya seolah tidak mampu memahami betapa gentingnya situasi Bapak/Ibu Yang Terhormat pada saat ini. Politik mungkin adalah segalanya bagi Bapak/Ibu Yang Terhormat,namun mohon maaf jika bagi saya politik tak ubahnya hanya sebuah pertarungan belaka, siapa pun yang menang dan yang kalah pasti akan terluka. Ibarat sebuah pertarungan, mungkin saat ini adalah saat yang paling menentukan, sehingga seluruh pikiran, jiwa dan raga Bapak/Ibu Yang Terhormat tercurah, sebab inilah saatnya pertarungan antara hidup dan mati, dia atau aku yang akan menang, dan yang terkuatlah akan menang.
Bapak/Ibu Yang Terhormat, sekali lagi, sebentar saja, tinggalkan semua singasana, impian bahkan obsesi yang Bapak/Ibu Yang Terhormat miliki untuk berdiri dan melihat semua permasalahan dari sisi dimana saat ini kami berdiri…. Sebentar saja, hanya sebentar….
Maaf, jika permintaan saya ini terlalu berat untuk dipenuhi….tapi sebentar saja….pejamkan mata Bapak/Ibu Yang Terhormat….perlahan….bayangkan Bapak/Ibu Yang Terhormat saat ini sedang menjalani kehidupan yang telah berhari-hari, berminggu-minggu….berbulan-bulan….bahkan bertahun-tahun kami jalani…….
Lupakan sejenak pilihan-pilihan dengan siapa Bapak/Ibu Yang Terhormat akan berkoalisi….lupakan….lupakan sejenak kursi menteri apa saja yang Bapak/Ibu Yang Terhormat inginkan….lupakan…..lupakan berbagai macam pilihan strategi kemenangan dalam Pilpres mendatang….lupakan…..
Lihatlah….sekelilingmu saat ini….di perempatan antara jl pramuka….lihatlah….berapa banyak anak-anak kecil berlalu lalang…pakaian mereka compang-camping….rambut mereka pun tak tersisir….mata mereka bukan lagi tatapan mata seorang anak kecil yang lugu….sorot mata itu telah penuh dendam, marah dan iri….bayangkan…..andaikan anak-anak itu adalah cucu-cucumu…..bayangkan….apa yang ingin kau perbuat untuk mereka ???? pantaskah dirimu menyebut telah berjasa, telah berbuat untuk bangsa ini sedangkan engkau tak pernah sedikitpun melihat, merasakan penderitaan mereka ???? Bayangkan…..seandainya mereka adalah cucu-cucu mu….apa yang ingin kau lakukan untuk mereka ?? Jangankan bermimpi dilahirkan di ruang VIP lengkap dengan fasilitas dan dokter spesialis ternama….mereka bahkan tak pernah diharapkan untuk terlahir di muka bumi ini….mereka telah terbuang atas nama peradaban dan pembangunan….lalu siapakah yang harus bertanggung jawab….jangan-jangan lagi kau katakan….bahwa pemerintah tak bersalah….bahwa rakyat yang bersalah….seperti lontaran sombong beberapa waktu lalu yang terdengar….jangan, kami sudah terlalu lelah untuk berdebat….sebab apa yang ingin kami katakan pun kami sudah tak tahu….lidah kami sudah kelu….kami hanya mampu menghafalkan satu kalimat, “Minta uang Bu…..minta uang Pak…..kami lapar…..kami belum makan ……” sementara makanan-makanan bergizi nan mengeliurkan yang terhidang di hadapanmu harus dipantang dengan alasan kesehatan….
Teruslah berjalan…..menyusuri sepanjang jalan Pramuka….lihatlah….betapa gigih rakyatmu terus berjuang mempertahankan hidup mereka….menawarkan botol-botol minuman yang mungkin sudah didaur ulang….persetan dilarang atau tidak….yang penting kami dapat uang untuk makan hari ini….
Lihatlah metro mini yang kebut-kebutan demi mengejar setoran…..lalu ketika mereka lalai mereka harus rela digebuki….lantaran mereka tak sengaja telah menabrak pengendara motor yang mungkin juga sudah terlalu letih karena setiap hari dia harus melalui rute yang sama yang tak dapat lagi di hitung jaraknya…..
Lihatlah kereta api ekonomi…..berapa banyak rakyat mu bergelayutan….jangankan memikirkan resiko yang harus mereka tanggung….mereka hanya berpikir….sayang, jika aku harus membeli tiket, uang itu bisa untuk beli beras istriku, uang itu bisa untuk membeli buku sekolah anakku…..sementara kau sibuk mengerutu hanya karena jalan macet….padahal engkau sedang berada dalam mobilmu yang super dingin dan empuk…..
Bapak/Ibu Yang Terhormat….maaf….bukan rakyatmu tak tahu beban derita yang harus engkau tanggung….betapa banyaknya rapat kabinet yang harus engkau pimpin…betapa banyaknya proyek pembangunan yang harus engkau teliti ulang….berapa banyak undangan kenegaraaan yang harus engkau hadiri….tapi maaf….rakyatmu sudah terlalu letih…..
Lihatlah….perempuan-perempuan itu tersenyum ke arahmu, mengoda….”Mampir mas, mampir….” Bujuk mereka….bibir mereka tersenyum manis….tapi pernahkan engkau membayangkan jika yang tengah berdiri di pinggir rel itu adalah anak-anak perempuanmu ??? Tentu tidak…..sebab dari awalnya….kehidupanmu telah jauh berada di atas mereka….tapi pernahkah engkau pikirkan nasib mereka sedikit lebih lama ?? Jalan keluar apa yang dapat engkau tawarkan sebagai pemimpin mereka agar mereka dapat keluar dari jurang kenistaan dan jurang neraka ??? Pernahkah engkau banyangkan penderitaan yang harus mereka lalui ?? Penderitaan dunia sekaligus penderitaan akhirat …..penderitaan dunia ketika mereka harus menekan dalam-dalam perasaan mereka agar mereka dapat melayani lelaki hidung belang….penderitaan mereka ketika para tetangga mereka mencibir, “lihat tuh….si pelacur…” penderitaan mereka ketika usia senja mereka beranjak….mereka tersadar….tak ada seorang pun yang rela menjadi pendamping mereka….bahkan anak-anak mereka pun telah pergi meninggalkan mereka…..bahkan anak-anak yang mereka lahirkan mengingkari keberadaan mereka sebagai seorang ibu yang pernah melahirkan mereka….”kamu bukan ibuku, kamu pelacur….” Pernahkah kau bayangkan duka mereka???? Apa yang dapat engkau tawarkan kepada mereka agar setidaknya sedikit saja, sebentar saja mereka merasakan manisnya madu kehidupan ???
Pernahkah sebentar saja engkau membayangkan….rumah yang dulu engkau tempati….mendadak penuh dengan lumpur yang membajiri….engkau pun terpaksa meninggalkannya….dan saat ini engkau tertidur bersama-sama yang lain di sebuah pasar….sementara terus dan terus engkau menunggu penuh sabar uang ganti rugi yang dijanjikan ??? Masih sanggupkah engkau berkata dengan lantang bahwa semua prosedur harus dijalani, pemerintah sudah berusaha jika engkau membayangkan engkau berada pada posisi mereka ?? Melihat atap rumahmu yang nyaris tak tampang di tengah lautan lumpur ??
Masih sanggupkah engkau dengan ponggah mengatakan bahwa program sekolah gratis yang engkau canangkan telah berhasil sementara…..masih banyak anak-anak yang enggan bersekolah karena dia tak memiliki buku-buku LKS, buku tematik….sementara buku-buku itu juga diwajibkan untuk dibawa??? Padahal triliunan rupiah telah diguyurkan atas nama anggaran pendidikan…..
Bapak/Ibu Yang Terhormat, maaf, jika akhirnya rakyat mu tak lagi menyesali karena dia terpaksa berdosa lantaran nama nya tak tercantum dalam DPT….maaf bila rakyatmu tak lagi melihat pemilu sebagai sebuah harapan baru….sebab….kami telah lama dikhianati….berapa banyak pemilu telah kami lalui…..berapa banyak janji-janji telah kami resapi….ternyata kami hanya bermimpi…..sementara engkau pun sibuk bermimpi….
Ya….maafkan kami jika kami tak lagi ingin memikirkan siapa yang benar dan siapa yang salah dalam pemilu ini….kami tak lagi ingin memikirkan ada tidaknya kecurangan dalam pemilu ini …..meskipun begitu banyaknya bukti kami lihat di berbagai media massa….kotak-kotak suara yang dibongkar….gerakan-gerakan dalam diam di berbagai tempat yang membujuk….menawarkan beras yang berwarna agak kecoklat-coklatan disertakan empat bungkus mie instan, minyak goreng yang berwarna kuning kecoklatan….bukan seperti beras yang biasa engkau makan….lalu disertakan pula Pin-Pin berhiaskan wajahmu yang tersenyum….maaf….rakyatmu sudah terlalu letih mendengar debat demi debat yang saling bersautan….maaf….karena akhirnya setelah pesta pemilu itu berakhir….rakyatmu tetap harus tertatih-tatih….harus mengais-gais dari sampah rumah yang satu ke rumah yang lain….sebelum akhirnya mengumpulkan barang-barang yang terlihat masih dapat dipakai ke pengepul…..sementara engkau masih sibuk memikirkan anggaran untuk mobil-mobil dinas para pejabat……maaf…..rakyatmu sudah terlalu sibuk memikirkan bagaimana, darimana kami dapatkan uang untuk makan hari ini…..sebagaimana engkau…. Bapak/Ibu Yang Terhormat….juga sibuk memikirkan argumentasi apa yang akan engkau katakan dihadapan para jurnalis agar citra mu tak mampu dirubuhkan oleh lawan…..maaf bila kami sudah terlalu bosan mendengar tutur katamu yang terlalu sopan bagi kami….sebab dalam kehidupan kami sehari-hari….kami terbiasa mendengar “bajingan lu!!” namun kemudian kami tetap dapat saling memeluk di tengah kerumunan pasar…..atau “Setan” lantas kami tertawa….maaf….bila kami tak sanggup berempati pada beratnya beban yang harus Engkau pikul wahai para pemimpin negeri ini….sebab…..kami pun tak lagi sanggup bermimpi bahwa Engkau akan sedikit memberikan empatimu pada kami…..kami sudah tak mampu lagi Engkau kecewakan lagi kali ini….sebab….maaf….kami sudah tak mampu lagi berharap pada para pemimpin yang hanya sibuk menghitung-hitung kekuatan dan kelemahan….bukan menghitung-hitung berapa banyaknya pekerjaan rumah yang harus diselesaikan….bukan menghitung berapa jumlah fakir miskin dan anak-anak telantar yang harus diperlihara…..maaf….bila kami tak mampu lagi berharap bahwa engkau akan rela turun ke bawah seperti yang pernah engkau janjikan untuk membangun moral kami yang terlanjur bejat….jika engkau tak lagi mampu melihat kemungkaran-kemungkaran yang telah dilakukan para anak buahmu demi tercapainya kemenanganmu….kami tahu engkau adalah manusia yang luar biasa….bahkan engkaupun sanggup menitikan air mata mu kala kamera televisi menyorotmu….tapi maaf….kami….rakyatmu…..sudah tak mampu lagi menitikan air mata kami yang telah lama mengering…..bahkan dukamu lantaran dituding telah melakukan perbuatan curang tak mampu lagi kami rasakan sebab hati kami telah lama mati….sebab kehidupan yang harus kami tapaki….akan terasa lebih menyakitkan jika kami tak “membunuh” hati sendiri….mampukah seorang perempuan melacur, jika dia masih punya hati ?? sanggupkah seorang anak membunuh ayahnya sendiri jika dia masih punya hati ??
Bapak/Ibu Para Pemimpin Negeri ini Yang Terhormat…..sebentar saja….tanggalkan egomu….tanggalkan kepentingan partaimu….dengarkanlah jeritan rakyatmu….tangisan mereka yang kehujanan di penampungan sementara karena rumah mereka teremdam lumpur….zikir mereka di bawah atap gubuk yang reyot….doa mereka yang menenggadahkan tangannya di pinggiran jalan…..Ya Allah…..kuatkanlah hati kami agar kami sanggup melalui cobaan ini…..lihatlah rakyatmu…..mereka….bahkan tak lagi berdoa agar Allah menurunkan pemimpin yang adil dan pengasih….seperti Khalifah Umar yang rela mengendap-endap di tengah gelapnya malam….menyamar seperti rakyat kebanyakan lalu langsung memberikan dermanya….mereka sudah tak mampu lagi berdoa agar Allah menurunkan pemimpin yang rela hidup sederhana….sama seperti rakyatnya….mereka sudah tak mampu lagi berdoa….agar diturunkan seorang pemimpin yang benar-benar mampu menjadi KHALIFAH menjadi PEMIMPIN….yang mampu mengayomi, melindungi, disegani baik kawan maupun lawan….seperti Nabi Muhammad SAW yang demikian disegani oleh lawannya….Nabi Muhammad SAW tidak pernah membalas mengertak lawannya….dia justru terus bersikap lembut….tulus….hingga akhirnya ketika pedang terhunus….lawan terberatnya justru berbalik menjadi pelindungnya yang setia….sebab Nabi Muhammad SAW senantiasa menyentuh setiap umat manusia dengan keikhlasan hatinya yang demikian tulus…..demikian pula dengan Maryam….yang tak gentar ketika difitnah lantaran telah melahirkan Nabi Isa tanpa seorang suami….begitulah kekuasaan Tuhan – Jika Tuhan Berkata “Terjadilah!” maka akan “Terjadi”. Sesungguhnya kemungkaran dan dusta apapun yang disembunyikan demikian rapat pasti akan terbongkar….demikian pula dengan kebenaran….PEMIMPIN sejatinya adalah seorang KHALIFAH….seorang KHALIFAH….yang sejati tentunya akan lebih memikirkan nasib rakyatnya….ketimbang nasibnya sendiri….lihatlah Musa yang rela meninggalkan kenikmati di istana raja menyebrangi lautan….maaf….sekali lagi maaf jika surat ini terlalu lancang…..hanya saja sebagai rakyatmu….kami sudah terlalu lelah menunggu……
**) Catatan ini telah dimuat di http://public.kompasiana.com
Menjadi Figur Bagi Diri Sendri
Andaikan sebelum dilahirnya, kita diberi kesempatan untuk memilih, siapakah yang akan menjadi orang tua kita, mungkin pilihan kita akan seragam. Kita tentu akan memilih dilahirkan di tengah-tengah pasangan yang saling mencintai yang hidup dalam kondisi serba berkecukupan. Namun bagaimanakah jika kita terlahir di tengah keluarga yang broken home ?? uhh....
Kepala saya mendadak pening saat mendengar cerita seorang teman yang selama ini telah menjadi salah satu sosok yang saya kagumi selain kedua orang tua saya. Rasa kagum saya kepadanya sontak berubah menjadi pemujaan. Betapa tidak, seseorang yang begitu berarti dan menjadi sumber inspirasi dalam hidup saya itu ternyata adalah salah satu korban keluarga broken home. Padahal teman saya terbungkus dalam “kemasan” yang sangat sempurna, dewasa, cerdas, alim (untuk ukuran kota sebesar Jakarta tentunya), semasa sekolah prestasinya cukup mengagumkan dan saat ini pun dia telah memiliki pekerjaan yang tergolong cukup mapan.
Meski jarak yang terbentang diantara kami berdua demikian jauh saat dia bercerita, namun getaran hatinya terasa begitu menguncang perasaan saya. Ayah yang seharusnya mengayomi, menafkahi, dan mendidik anak-anaknya, ternyata telah tega meninggalkan seorang istri dan keempat anaknya.
Kegetiran tetap terasa menyakitkan batin saya saat mendengar penuturan teman saya. Meski tergolong sosok yang tabah dan tegas hingga nyaris terkesan garang, ternyata luka yang sangat dalam terlanjur membekas. Suara yang biasa terdengar kuat dan ceria itu terdengar tertekan.
Kenyerian itu mendadak ikut menyayat batin saya. Tak mudah bagi seorang anak yang masih duduk di bangku TK menerima kenyataan pahit sang Ayah tega meninggalkan Ibundanya berikut seorang kakak yang masih duduk di bangku kelas 2 SD dan dua orang adik yang masih berusia balita.
“Aku mencoba menjadi figur bagi diriku sendiri…sebab kalau tidak aku tidak tahu apa ya ng terjadi pada diriku saat ini,” katanya sambil tertawa. Namun entah mengapa, tawa itu terdengar demikian getirr...
Ya Tuhan….ingin rasanya tangan ku merengkuh dan memeluknya sebab sosoknya yang tegar mendadak berubah menjadi sosok bocah kecil yang begitu kesepian, sendirian…..mencoba dan memaksakan diri untuk tegar….dan terus menerus mangatakan dalam batinnya…..semua pasti akan baik-baik saja…..semua pasti akan baik-baik saja…..namun ternyata tidak….
“Yah, aku beruntung, demikian pula dengan adikku yang nomer 3, namun yang nomor 1 dan nomor terakhir hancur….” tuturnya dengan nada sangat getir.
Ya Tuhann...
Itulah yang terjadi ketika sebuah kapal akhirnya karam lantaran terhempas badai. Para penumpangnya, masing-masing mau tak mau harus berusaha menyelamatkan diri sendiri.
Begitu pula yang terjadi pada anak-anak yang terlahir di tengah keretakan bahkan kehancuran sebuah keluarga. Anak-anak itu biasanya harus berjuang keras untuk berdiri tegak menatap kehidupan, karena ia terlahir dengan cerita pedih.
Perceraian memang tak seharusnya berakhir dengan derita yang berkepanjangan. Namun tak dapat dipungkiri keretakkan rumah tangga hampir dapat dipastikan memberikan dampak buruk pada anak-anak. Setidaknya perceraian pasti mengoreskan kenangan pahit dan menyakitkan bagi anak-anak. Perasaan un happy, hingga hilangnya perhatian orang tua dapat menyebabkan hadirnya kesedihan dimasa kanak-kanak mereka yang seharusnya penuh dengan keceriaan.
Berusaha menjadi figur bagi diri sendiri adalah salah satu jalan alternatif bagi anak-anak korban perceraian agar tak ikut luluh lantak akibat kehancuran rumah tangga orang tuanya.
Namun itu hanyalah alternatif mengurangi dampak negatif secara fisik. Namun secara psikis, tetap saja perceraian tetap saja menimbulkan rentetan goncangan-goncangan yang menggoreskan luka batin yang sangat dalam. Sangat wajar bila pada akhirnya dalam beberapa kasus terjadi anak yang orangtuanya bercerai, pada saat dewasa, menjadi takut untuk membuka diri dengan lawan jenis atau bahkan lebih jauh lagi menjadi takut menikah. Sebab disadari atau tidak, perasaan khawatir perkawinannya nanti akan mengalami nasib yang sama seperti orangtuanya tetap menghantui.
“Menjadi figur bagi diri sendiri” boleh jadi dapat dijadikan upaya “penyelamatan diri” yang bersifat sementara sebab jika alternatif jalan itu terus dijalani, sesungguhnya itu hanya akan menimbulkan luka baru....seperti yang pernah diungkapkan seorang teman saya yang begitu bijak....akan tetap ada “ruang” yang kosong di sukma…hanya akan meninggalkan ”lubang di dalam hati…”
Namun entahlah.... hingga kini saya pun tak sanggup dan ttidak berani menanyakan kepada teman saya “Apakah hatimu baik-baik saja?” meskipun setiap hari saya selalu merasakan kesunyian, kesepian di lorong2 hatinya….
Kesulitan membuka diri, membuka hati, kesulitan untuk menyayangi lantaran sibuk menghindarkan diri dari luka batin yang tak berkesudahan ternyata telah menimbulkan dampak negatif yang jauh lebih mengerikan akibatnya.
Sampai kapankah lubang yang mengangga lebar itu akan terus dibiarkan melukai jiwanya ??? entahlah.....meskipun setiap saat saya selalu ingin memintanya untuk tidak terus menerus menyembunyikan luka batinnya sebab itu hanya akan memelihara kepedihannya....tetap saja tak satupun kata dapat terangkai....hanya doa, dan doa yang terus saya rangkaikan untuknya....memohon agar Sang Maha Pengasih berkenan menghapus semua luka dihatinya....just let it be, let it be, let it be...
Catatan ini merupakan moderasi dari artikel dengan judul yang sama pada http://publickompasiana.com