Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 September 2008

Sedih

ingin berteriak, namun lidahku kelu,

sementara muram pagi makin menggerogoti sepi.

lidah mentari pun masih tak tampak di sudut timur cakrawala.

aku beku di sini. di sudut ruangan ini.
kupandangi bayangannya yang lewat bersama dinginnya pagi.

senyum yang terukir di ekor matanya tampak gemilang dengan kebahagiaan dan harapan tersembul dari setiap cahayanya.

saat itu aku bahagia dia bahagia. aku tahu diapun bahagia aku bahagia.

tangan tergenggam erat . menyatu lewat setiap rangkaian kata dan bertaut erat

kudengar desir angin bertiup. Dingin menyusup ke sumsum.

aku pun kian kelu. Begitu mudahnya asaku dia hempaskan. Remuk tak berbentuk

sementara tumpukan rasa telah kuikat rapi di sini.


buyar rangkaian kata dari mataku. merayap ke sendi-sendi kegembiraanku.

merebak sudah getar diri, merangkup setiap celahan duka yang mengiris perlahan.

menggores setiap tanya, tanpa ada jawabannya.

Dear, my dear, begitu ucapmu setiap bertemu denganku.

Manis di telinga hati, menggetarkan jalinan nadi. akupun terbalut emosi.

Desir angin kembali berhembus. Dingin …..

dan aku mengibas buyaran mimpi yang semakin memburami kegembiraanku

Pernahkan rindu mengusik harimu?

Ataukah semua tentangku tak berarti ?

Laksana debu yang begitu mudah terhapus seperti derasnya air hujan ?

seringkali aku mencoba untuk mengikis rindu, ya, aku rindu.

seringkali aku gagal, tapi setidaknya aku telah mencoba.

entah dengan kau.

tahukah kau, rindu telah membenamkan semua tanyaku, membutakan logikaku, membunuh setiap denyut jantungku?

tahukah kau?

Cedera

Adakah ketulusan itu dalam senyumanmu ?

Ataukah senyumanmu hanya sebuah kepura-puraan ?

Adakah ketulusan itu dalam setiap perkataanmu ?

Ataukah setiap kata yang meluncur darimu,

Merupakan politik pencitraanmu duhai kawanku ?

Tak secuil pun dendam tersisa dalam lubuk hatiku,

Namun terus terang, untuk kembali mempercayaimu,

Terasa sangat sulit bagiku,

Karena ternyata, Sumpahmu Demi Tuhanmu dan Tuhanku,

Ternyata hanya sebuah sandiwara bagimu,

Dan bagiku, pengalaman adalah guru terbaik bagiku,

Sedang pengalamanku mengajarkan aku,

Agar aku jangan begitu saja kembali mempercayaimu,

Sebab begitu aku mengembalikan kepercayaanku padamu,

Sesingkat itu pula kau cederai kembali kepercayaan itu.

Selasa, 23 Januari 2006

10.55 WIB

Puisi ini diilhami oleh seorang yang "mengaku" sebagai temanku, dan kepedihan dilukai seorang teman ternyata lebih pedih daripada saat kita dilukai oleh orang yang dari awal memusuhi kita****