Minggu, 12 Januari 2014

Mencium Hajar Aswad

"Bisa mencium Hajar Aswad nggak?"

Itu adalah salah satu dari sekian banyaknya pertanyaan yang dipertanyakan kepada saya sepulang umroh.

Batu hajar aswad atau batu hitam yang terletak 1,10 meter itu pernah dicuri oleh Abu Thahir dari syi'ah Irak . Dikisahkan dalam sebuah stasiun televisi swasta, astronot di luar angkasa melihat satu sinar yang sangat terang yang berfungsi seperti super konduktor yang ternyata adalah Hajar Aswad. Hajar Aswad menurut penelitian adalah batu meteor. Namun hingga saat ini misteri tentang batu Hajar Aswad belum jua terpecahkan. Kurang lebih selama 22 tahun hajar aswad dalam penguasaan Abu Thahir hingga akhirnya Hajar Aswad dikirim ke Mekkah diatas satu tunggangan pada bulan Dzul qa'dah tahun 339 H. Dikisahkan pada saat mencuri Hajar Aswad terpaksa diangkut oleh beberapa onta dan melukai punuk-punuk onta tersebut sedang pada saat mengembalikannya lancar dan hanya membutuhkan satu onta saja. Saat ini Hajar Aswad terdiri dari 8 (delapan) kepingan yang disatukan dengan dilapisi pinggiran perak. Rasa ingin tahu saya ini berhasil mendapatkan jawabannya setelah saya di BBM Ustadz Yusron Ahmad yang masih belia dan lebih muda dari Ustadz Achmad Slamet Ibnu Syam, Lc  yang menjadi pembimbing utama jamaah. Pada waktu umroh, meski terbersit tanya namun belum sempat saya utarakan. Alhamdulillahnya, selepas umroh, Ustadz Yusron masih berkenan membimbing dan memberikan berbagai informasi termasuk tentang hajar aswad tersebut.

Mencium Hajar Aswad?

Pada saat manasik, Ustadz Ahmad Jameel sempat mengkisahkan ada seorang jamaah laki-laki bertubuh besar dari biro travel lain hingga pulang tidak diketemukan. Setelah beberapa saat usai pulang ke tanah air barulah diperoleh kabar jamaah itu telah meninggal dunia karena tewas terinjak-injak. Pada saat itu terbersit tanya, "masak sih hanya karena ingin mencium hajar aswad orang tidak melihat ada yang jatuh hingga terinjak-injak?" kurang lebih itu adalah pertanyaan yang mencuat di pikiran saya.

Pada saat selesai tawaf, Ustadz Achmad Slamet Ibnu Syam, Lc yang merupakan pembimbing utama menjelaskan berbagai hal terkait dengan hajar aswad. Beliau mengutip hadits yang diriwayatkan Ibnu Abbas dimana Rasulullah bersabda bahwa hajar aswad diturunkan dari surga, dan pada saat itu warnanya lebih putih dari susu, lalu karena dosa-dosa keturunan Nabi Adam yang membuat warnanya berubah menjadi hitam.

Kemudian dikisahkan pula dari hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas juga, bahwa Rasulullah bersabda pada hari kiamat Hajar Aswad akan dibangkitkan, dan Allah memberikannya mata yang dapat melihat dan lidah yang dapat bicara , memberikan persaksian terhadap orang yang menyentuhnya dengan kebenaran.

"Tapi jangan sampai memaksakan diri untuk menciumnya jika membahayakan keselamatan diri sendiri, " tandas Ustadz Achmad Slamet Ibnu Syam malam itu. Membahayakan keselamatan diri? hanya itu yang lagi-lagi menjadi pertanyaan batin saya.

Rabu, 1 Januari 2014 siang itu usai mandi dan makan pagi kami berniat menunaikan tawaf sunah. Urutannya sama seperti umroh tentunya, doa masuk masjidil haram, doa melihat ka'bah dan baru mulai tawaf di start awal yaitu menghadap Hajar Aswad dengan seluruh badan miring dan miring (sebagian badan) meski bisa saja menghadap muka saja sambil membaca "Bismillaahi Allahu Akbar" (Dengan nama Allah, Allah Maha Besar". Kami berdua mulai tawaf dengan bergandengan tangan dan membaca doa-doa sebagaimana ada di buku panduan mulai dari doa putaran pertama yang mulai dari Hajar Aswad sampai rukun Yamani.

YANG HARUS DIINGAT, SAAT THAWAF SUNAH BERLAKU KETENTUAN YANG SAMA DENGAN TAWAF SAAT UMROH, jangan sampai ada aurat yang terlihat bahkan sehelai rambut pun.. bisa dibantu dengan mengunakan dalaman yang rapat bagi wanita. Dilarang buang angin dan aktivitas lain yang membatalkan wudu. Wudunya juga harus membasahi hampir seluruh rambut karena dikhawatirkan tersentuh non muhrim saat thawaf.

Uniknya, pada putaran pertama, jalan menuju Hajar Aswad terbuka lebar. Pegangan tangan saya terasa tertarik. Rupanya pasangan saya tergerak untuk menuju Hajar Aswad. "Jangan.. baru putaran pertama.. nanti batal harus mengulang lagi dari awal.." cegah saya.

Hal yang sama terulang lagi, pada saat putaran ke-3, jalan menuju Hajar Aswad terbuka lebar diantara begitu banyak kerumunan. Secara reflek pasangan saya langsung menarik tangan saya menuju Hajar Aswad. "Jangan.. ini godaan, baru putaran ke-3, " kata saya menahan tangan beliau dengan mengengamnya makin erat. Pasangan saya langsung istighfar dan kami kembali melanjutan putaran thawaf.

Akhirnya tuntas juga tujuh putaran thawaf. Satu tips agar tidak lupa, selama thawaf disunnahkan melihat Ka'bah. Berlawanan dengan jarum jam, jadi menghadap ke kiri. Menurut Ustadz yang paling muda dari ke-3 Ustadz yang menyertai rombongan kami agar hati selalu muallak atau dengan bahasa lain agar hati selalu berdekatan dengan ka'bah. Menurut beliau juga, Allah menurunkan rahmat 120 rahmat, 60 rahmat diberikan kepada yang thawaf, 40 rahmat untuk yang sholat dan 20 rahmat untuk yang melihat ka'bah. walllahu'alam bishowab.

Setelah selesai tujuh kali putaran, kami bergeser sedikit ke kanan dari arah sudut Hajar Aswad, menghadap bagian dinding Ka'bah yang disebut dengan Multazam dan berdoa. Pertama sih yang kami baca doa sebagaimana ada di panduan yang intinya berdoa minta agar dibebaskan dari siksa api neraka baik untuk Bapak, ibu, saudara-saudara, anak-anak kami.  Memohon dijauhkan dari kehinaan dunia dan siksa akhirat. Mengharap rahmatNYA, kasih sayangNYA, memohon agar diperbaiki segala urusan kami, agar hati kami dibersihkan, diberikan cahaya dalam kubur kelak.

Kemudian kami melakukan sholat sunat thawaf yang dilakukan di belakang maqam Nabi Ibrahim. Sama seperti sholat sunnah thawaf saat umroh, setelah membaca Al Fatihah pada rakaat pertama sebaiknya membaca surat Al Kafirun dan setelah membaca Al Fatihah pada rakaat kedua membaca surat Al Ikhlas.

Kami lalu berdua bergandengan tangan menyusuri keramaian dan mendekat ke Hajar Aswad. Kami perlahan terdesak dan berpegangan tangan pada marmer yang mengitari Ka'bah. Jangan sampai menyikut dan menyakiti siapapun, begitu selalu diri mengingati karena ada sebuah hadits menyatakan kepada Umar, “Hai Umar engkau adalah seorang yang kuat, jangan engkau berdesak-desakan untuk mendekati Hajar Aswad lalu kamu menyakiti yang lemah. Jika kamu memperoleh kesempatan maka ciumlah Hajar aKAswad itu. Jika tidak, cukup dengan takbir dan terus berjalan." (HR. Al-Syafi’i).

Selama berpegangan tangan pada marmer yang mengitari Ka'bah, saya terus menerus melafadzkan sidul istighfar.. Astaghfirulloh hal adzim aladzila illa ha'ila huwal hayyul Qoyyum wa'atubu illaih..aku memohon ampun padaMU ya Allah.. ampuni semua dosa-dosa hamba Ya Allah.. tiada satu pun yang patut aku sembah selain hanya Engkau.. Ya Allah Yang Maha Mengatur segala urusan, hanya kepadaMu aku bertaubat dan memohon ampun atas segala dosa-dosaku.. Ampuni dosaku ya Allah.. terus menerus kami terdesak namun kami bertahan untuk tetap berpegang pada pinggiran batu marmer. Sebelumnya saya tidak tahu kalau ada batu marmer yang mengitari, entah bagaimana jemari saya menyentuhnya kemudian saya memegangnya erat. Tiba-tiba saya sudah sampai tepat di depan Hajar Aswad.  Rasanya tak percaya melihat batu hitam atau Hajar Aswad itu di depan mata begitu tiba-tiba. Hening begitu hening. Seolah terpisah dari hiruk pikuk suara yang ada. Mencium dan berdoa. Hanya itu yang langsung saya lakukan. Sungguh rasanya ingin berlama-lama tapi menyeruak bisikan.. untuk segera menyudahi pertemuan itu karena diluar begitu banyak umat yang berharap mendapat kesempatan yang sama.

Keluar dari Hajar Aswad dorongan dan desakan itu makin merangsek dan saya berada pada arah yang berlawanan. Pasangan saya entah kemana.. tertutup begitu ramainya umat yang merangsek dan mendesak. Sedang nafas saya mulai terasa sesak karena terhimpit. Mendadak saya terjatuh. Dugaan saya karena kaos kaki yang saya kenakan berwarna putih polos licin dan tidak ada bintik-bintik karet dibawahnya. Saya terjatuh, terduduk dan terhimpit diantara sekian banyak kerumunan yang saling mendesak. Tapi tak satupun rasa sakit saya rasakan.

Saat itu saya sempat meminta tolong.. "Tolong.. tolong.. help me please... help me please..." mata bertemu mata. Tapi tiada berdaya memberikan pertolongan.

Mendadak saya teringat kisah yang diceritakan Ustadz Ahmad Jameel dan peringatan Ustadz Achmad Slamet Ibnu Syam.

"Ya Allah.. inikah yang Bapak itu rasakan menjelang ajalnya?" bisik batin saya. "Ya Allah jika ini adalahlah takdirMu, hamba ikhlas.. sesungguhnya hidup dan mati hamba hanyalah untuk beribadah kepadaMu.. jika ini adalah takdir hamba maka itulah yang terbaik bagi hamba.."

Mendadak saya teringat sebuah pelajaran pilot dalam situasi genting be calm.. don't be panic.. "Allah akan selalu menolong hambaNYA yang berserahdiri kepadaNYA, " begitu pelajaran yang saya terima dari salah seorang instruktur penerbang, saya menarik nafas panjang dan mulai beristigfar. Astaghfirulloh hal adzim aladzila illa ha'ila huwal hayyul Qoyyum wa'atubu illaih.. Astaghfirulloh hal adzim aladzila illa ha'ila huwal hayyul Qoyyum wa'atubu illaih.. Astaghfirulloh hal adzim aladzila illa ha'ila huwal hayyul Qoyyum wa'atubu illaih..tepat 3 kali saya lafadzkan kalimat saidul istigfar tersebut mendadak saya mendengar suara sayup-sayup..

get up.. get up.. get up... sebuah jemari lentik mendadak telah mengengam tanganku lembut. Entah darimana asalnya kekuatan itu.. akhirnya saya bangun dan dengan mudahnya wanita remaja usia bertubuh tak jauh beda dengan saya itu dengan mudahnya menerobos kerumuman orang yang begitu banyak.  Tanpa mendesak dan begitu mudahnya.. Hingga tiba-tiba saja kami berdua berada di tepian kerumunan.

"Thank you Sister.." ucapku ketika kami sudah sampai di tepian Ka'bah.  Wanita itu langsung tersenyum. Wajahnya begitu indah, ramah dan tenang. Cantik. entah mengapa saya mendadak jadi teringat kisah budak perempuan yang  dibebaskan oleh Rasulullah yang bernama Safinah. Lalu wanita muda itu membalikan badannya dan menghilang diantara kerumunan. Karena teringat saya belum mengetahui namanya, langsung saya kejar dan cari kembali. Setiap saya menepuk pundak sosok yang serupa selalu bukan wanita itu. Saya berulang kali mengejar sosok wanita semampai dengan pakaian putih dan dibawah oranye kuning keemasan. Saya tahan pundaknya ketika sosok itu menoleh ternyata bukan dia yang gadis hitam manis yang menolong saya.

Ya Allah.. dimana dia? saya belum sempat bertanya namanya.. Hingga akhirnya di pinggir Ka'bah saya bertemu dengan pasangan saya. Kami langsung berpelukan. Tangis saya pun tumpah. "Aku pikir, tadi adalah akhir dari hidupku.." hanya kalimat itu yang mampu meluncur dari bibir saya. Dia mengengam erat jemari saya. "Hayuk sholat di Hijr Ismail, " ajaknya tenang. Saya mengelengkan kepala. Saya masih trauma melihat kerumunan orang, apalagi untuk sholat di Hijr Ismail yang juga ramai. Dia mengengam jemari saya dan menarik perlahan. Kami berdua menyelusup lagi diantara kerumunan. Saat di Hijr Ismail tiba-tiba seorang wanita memberikan isyarat dan saya masuk ke dalam dan melakukan sujud syukur baru kemudian shalat sunat mutlak. Ada begitu banyak percakapan hati yang tidak mampu saya tuangkan dalam kata-kata. Namun satu keyakinan yang makin tertancap dalam hati, tatkala kita berada dalam situasi kritis, pada saat yang lain tiada mampu menolong, maka cukuplah bersandar kepadaNYA.. karena  Allah akan selalu menolong hambaNYA yang berserahdiri kepadaNYA..

sudah diposting di FB: https://www.facebook.com/notes/handrini-ardiyanti-sjoehada/abcd-ibadah-umrohhaji3-edisi-hajar-aswad-3/10151823740317617

ABCD Ibadah Umroh/Haji..(2)

Sebelumnya saya sempat menyiapkan dua buku sekaligus untuk mencatat.. (1) buku mencatat doa-doa titipan.. Nah ini penting sekali karena kasihan mereka yang sudah nitip doa.. tapi ada satu doa pamungkas yang selalu saya pinta saat di rawdah dan setiap beribadah di Mekkah dan Medinah "Ya Allah kabulkanlah semua doa yang telah diamanahkan kepada hamba dan yang akan di amanahkan kepada hamba untuk dipintakan tapi mereka belum mendapatkan kesempatan untuk menyampaikannya.. aamiin.."

Buku kedua untuk mencatat ABCD umroh berikut ilmu-ilmu yang didapat saat beribadah haji.. tapi teryata sangat sempit waktu yang dimiliki untuk mencatatnya.

Catatan pertama:
1) di Imigrasi istri harus berdiri dibelakang suami.. atau misalnya yang sendiri ya dimahromkan harus hafal mahromnya dan berdiri dibelakang mahrom nah kecuali seperti yang saya alami.. mendadak dapat dispensasi jalur khusus wanita, sehingga tidak mengalami cerita antri berjam-jam. Agak lucu memang di imigrasi bisa diminta pindah2x jalur seperti yang dialami jamaah laki-laki.

2) Nomer HP. Di imigrasi karena lamanya mengantri ada beberapa kali ditawarin nomer perdana. Tapi jangan terburu2x diambil karena mengaktifkan perdana mobily atau STC tidak semudah yang kita bayangkan. Lebih baik mengunakan nomer HP XL atau Axis. XL bisa langsung ON untuk BBMnya tapi jangan kaget karena terkena roaming ya. Teman saya akhirnya menonaktifkan BBM karena menyedot pulsa. Demikian pula saya. Tidak ada salahnya membawa HP cadangan. HP cadangan itu sangat berguna ketika kita mau aktifkan nomor setempat sehingga tidak menganggu nomer lama. Jika pakai pra bayar pastikan sisa pulsa mencukupi karena koordinasi diperlukan bisa dengan SMS.

3) Waspadai adanya kejadian tak terduga di imigrasi bagi yang punya nama aneh. Karenanya untuk orang tua jangan  memberi nama anak dengan nama yang aneh-aneh. Salah seorang seorang teman terpaksa "ditahan" karena namanya dua suku kata namanya adalah nama Perdana Menteri Israel Menachem Begin. Menachem Begin adalah keturunan yahudi polandia yang menjabat kepala zionis Israel dari kelompok Irqun yang menjabat sebagai Perdana menteri Israel ke-6. Kebetulan jamaah ini juga memiliki wajah India.. lengkaplah sudah.. berjam-jam atau tepatnya sekitar 4 jam akhirnya kami menunggu di imigrasi. Tapi Alhamdulillah karena kami jadi memiliki waktu yang leluasa untuk antri di toilet dan sholat, tapi bagi kami tentunya bukan bagi Mas Begin..

4) Agar mudah mencari posisi awal atau teman-teman di Masjid Nabawi bisa dihafalkan nomer rak sepatu atau posisi tiang (dapat dihitung jumlah tiang).

5) Untuk ke Rawdah hafalkan jadwal masuk khusus ke Rawdah. Jangan bawa kamera ya.. cukup dengan HP saja. Syukur-syukur jika mau mengenakan baju hitam-hitam dan cadar hitam lalu bergabung bersama orang-orang Turkey dan yang pakai cadar lainnya. Seorang azkar yang sangat baik menyarankan hal ini kepada saya dalam bahasa Arab yang disertai bahasa "tarzan". Meski saya tidak mengenakan cadar akhirnya strategi itu saya ajarkan kepada teman-teman yaitu ke rawdahnya barengan dengan rombongan Turkey dan Arab lainnya karena (maaf) jamaah dari Indonesia kerap kali kurang toleransi berbeda dengan jamaah Turkey yang langsung menyingkir ketika dia tahu kita sedang sholat sunah di rawdah. Di rawdah waktu yang cukup luang usai sholat subuh dan isya. kalau setelah jam 9 penuh banget.

6) Bawa tempat minum tertutup rapat dan bawa ke kabin untuk membawa air zam-zam. Agak lucu juga permintaan 3 puteri saya untuk membawa air zam-zam yang langsung diambil dari masjidil haram. Banyak juga jamaah yang ketakutan dan meninggalkan botol mineral berisi air zam-zam sebelum X-Ray. Saya sendiri memilih menaruh botol-botol minum berisi air zam-zam secara terang-terangan dalam satu kantung plastik dan lolos. tapi jangan coba-coba menaruh di bagasi ya bisa rempong katanya.

7) pastikan tas yang kita masukan dalam bagasi memiliki kekuatan cukup untuk dibanting-banting. Jika tidak maka dapat di wrapping.

8) saat di X-ray jangan mengenakan busana seperti mukena tapi kenakan yang simpel dan rapi serta syar'i.

9) sediakan pecahan riyal yang cukup bisa 1 atau bagusnya sih 5 atau 10 riyal agar kebagian semua.. tergantung keuangan yang kita miliki untuk sedekah karena khususnya waktu di jeddah misalnya jika kita kasih sedekah pada satu orang maka langsung dikejar yang lainnya, siapkan di tempat yang bisa langsung diambil.

10) Hafalkan dengan sungguh-sungguh posisi hotel karena khususnya di Mekkah, ada beberapa tower serupa dan dalam satu lokasi ada beberapa hotel sekaligus. Hafalkan di belokan ke berapa hotel, termasuk warna karpet dan ciri-ciri fisik hotel lainnya agar kita jangan sampai tersesat.

11) apalagi yaaaaaaa..... masih banyak catatan yang coba saya ingat-ingat dan bagi yang ingin menambahkan silahkan yaaaaaaaaa

sudah diposting di FB:  https://www.facebook.com/notes/handrini-ardiyanti-sjoehada/abcd-ibadah-umrohhaji2/10151819303372617

ABCD Ibadah Umroh/Haji (1)

Jika ada yang mau umroh/haji mayoritas pertanyaan adalah tentang cuaca dan apa-apa saja yang perlu dibawa. Bagi saya sendiri hal itu adalah wajar meski soal cuaca ternyata semuanya sama seperti semua hal di dunia adalah kuasaNYA jua. Saat mendengar informasi dari teman cuaca di Medina 15 derajat celcius puteri pertama saya panik, khawatir dan langsung menyorongkan jaket kuningnya (meski sebenarnya untuk ukuran suhu 15 derajat celcius jaket tersebut tergolong tipis) tapi tetap saja saya terima dan jejalkan bersama pakaian lainnya. "Doain ya Kakak, Fifi, Putri semoga cuacanya ga terlalu dingin, " ucap saya.

Tapi sebenarnya apa saja sih yang penting diperhatikan dan dibawa saat umroh/haji? Meski lupa-lupa ingat saya mencoba merangkumnya dalam note ya.. Catatan ini tentunya lebih untuk Akhwat ya.. semoga bermanfaat:
1. Al Quran yang ada terjemahannya. (Perjalanan berjam-jam, fokus pada ibadah dengan bantuan Al Quran yang ada terjemahannya membuat saya jauh lebih paham isi Al Quran karena meski banyak sekali Al Quran di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram tidak ada terjemahannya)
2. Sunblock, pelembab bibir yang halal (bukan promosi tapi ga ada salahnya beli paket haji dari wardah. Saya sendiri tidak membeli paket wardah hanya sun block saja. Untuk bibir dalam keadaan darurat bisa dioleskan madu yang tersedia di hotel jika ada saat sarapan atau bisa juga dengan dibasahi dengan ludah karena sangat memiliki manfaat untuk mencegah bibir pecah hingga berdarah. Beberapa jamaah mengalami retakan bibir sepanjang tepian hingga berdarah.
3. pelembab tumit kaki. Meski mengenakan kaos kaki tapi karena perbedaan cuaca tumit kaki rentan pecah-pecah. bisa digunakan saat sebelum tidur sehingga tidak menganggu ibadah sholat.
4. Nomer HP yang saya sarankan adalah XL. Nomer lainnya Axis. Baru simpati. Jangan lupa kalau menelpon dari sana pakai kode tertentu untuk axis simpel tinggal ditambahkan O (nol) sebelum nomer seluruhnya.
5. Obat-obatan lengkap. Saya agak menyesal karena mengeluarkan antibiotik dari bawaan obat ketika mendapati jamaah dari travel dan di hotel lain menderita tipus. Vitamin tentunya.
6. Payung.. nah ini ternyata diluar dugaan saya berguna karena pas di Madinah hujan cukup deras.
7. Gamis..... semua pakaian yang saya bawa Alhamdulillahnya mayoritas gamis kecuali satu seragam karena mepet jadinya mau ga mau dibantu dengan celana. Sangat kikuk kalau disana mengenakan celana untuk wanita.
8. Dalaman jilbab ninja anti temben (antem) yang menutup rapat aurat karena sehelai rambut saja keluar saat tawaf jadi ga sah.
9. Lapisan tangan yang terbuka telapak tangannya jika kita mau sholat cukup pakai gamis saja.
10. Dalaman gamis jangan sampai pakai gamis tapi nerawang.
11. Sajadah yang bisa dilipat dan jangan terlalu tipis karena jika kita terlambat datangnya di Masjidil Haram bisa-bisa sholat di pelatarannya.
.....11 dulu ya.. catatan berikutnya menyusul.. ada yang mau menambahkan silahkaaaaaann

sudah di unggah di Facebook:
https://www.facebook.com/notes/handrini-ardiyanti-sjoehada/abcd-ibadah-umrohhaji1/10151819280067617

Teori Pelangi dalam Al Quran

Pelangi kerap kita lihat baik itu ketika sinar matahari muncul setelah hujan maupun ketika sinar matahari menyinari permukaan air baik itu air terjun. Intinya dari pelangi adalah ketika cahaya matahari dibiaskan.

Saya selalu meyakini setiap kejadian maupun yang akan terjadi selalu ada dan dijelaskan dalam Al Quran. Hanya saja kerap kali akal pikiran kita belum cukup untuk memahaminya. Baru setelah akal kita diijinkan oleh Allah untuk memahaminya melalui serangkaian percobaan dan belajar kita dapat memahaminya secara bertahap.

Tentang pelangi.. cahaya.. saya teringat ada sebuah surat dalam Al Quran tentang cahaya An Nur.. ketika saya baca ada satu ayat yang mengingatkan saya tentang pelangi..

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat per­umpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. 24:35)

Pelita itu di dalam kaca..cahaya tersebut memancar dalam kaca yang bening..(Dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara..

Ayat tersebut dalam tafsir Ibnu Katsir diungkapkan merupakan penjelasan atas kemurnian hati seorang Mukmin dengan lentera dari kaca yang tipis dan mengkilat, menyamakan hidayah al-Qur-an dan syari’at yang dimintanya dengan minyak zaitun yang bagus lagi jernih, bercahaya dan tegak, tidak kotor dan tidak bengkok (Buku Tafsir Ibnu Katsir hal. 436-440). Namun ketika membaca ayat tersebut saya teringat pada pelangi yang terjadi ketika pelita/cahaya matahari ada dalam air yang bening (kaca yang bening..

Wallahu'alam bishowab..

Kamis, 10 Oktober 2013

The best of friends

The best of friends,
Can change a frown,
Into a smile,
when you feel down.

The best of friends,
Will understand,
Your little trials,
And lend a hand.

The best of friends,
Will always share,
Your secret dreams,
Because they care.

The best of friends,
Worth more than gold,
Give all the love,
A heart can hold.

*) saya tidak tahu dapat puisi ini dari mana dan karya siapa

Selasa, 23 Juli 2013

Menjadi Istri Pilot? Siapkah?

BuNdaaa ♏äϋ piloooot1 buuund
Cariiiim bun
(Ơ̴̴̴͡ ˛̮ Ơ̴̴̴͡)

Saya tertegun membaca komen dari salah satu status saya…komen itulah yang akhirnya mendorong saya untuk menulis catatan ini, meski hmm *sambil tersenyum kecil* saya tak tahu seberapa tepat catatan saya ini. Satu hal, sebelum memutuskan saya terbiasa belajar memahami sedetail mungkin apa yang akan menjadi pilihan yang tentu akan saya jalani seumur hidup saya itu.

Sejak kecil saya memang menyukai pesawat, tapi pesawat tempur, bukan komersial mungkin karena video yang suka saya tonton, Captain Gavan dan Sharifan. Tapi belakangan saya paham ada satu hal yang membedakan, jika pilot pesawat tempur mengalami masalah dapat segera memanfaatkan kursi lontar untuk menyelamatkan diri, bagaimana dengan pilot komersial? Hehe, rasanya harus siap-siap untuk “dikriminalisasikan” seperti yang dialami captain Marwoto (karena itu saya benar-benar berharap pengadilan khusus sebagaimana diamanatkan UU Penerbangan dapat segera terwujud).

Ulasan singkat diatas hanya sekedar pembuka catatan tentang “menjadi istri seorang pilot” meski maaf, saya hanya memiliki kemampuan menulis tentang “menjadi istri seorang pilot” komersial bukan pilot pesawat tempur sebab sebagai peneliti saya tidak berani menulis sesuatu yang saya belum mengamati atau setidaknya mendapatkan beberapa fakta tentangnya.

Saya mencoba menulis dari sisi pandang sekomprehensif mungkin, meski jelas jauh dari sempurna.

1)Jadwal pilot jauh berbeda dengan jadwal “orang kebayakan”. Meski “jadwal yang kurang baik” akan memberikan 12 days off. Jadwal seorang pilot bukanlah seperti jadwal kerja yang rutin dari “orang kebanyakan” dimana mereka bangun pada jam yang sama dan pulang pada jam yang sama (saya sudah merasakan bagaimana rasanya dengan jam terbang pulang kampung dengan SJ 220 ETD 19.05 dan kembali dengan SJ 221 ETD 06.35_hmm serasa “berangkat kerja bersamaan waktunya dengan maling pulang” hehe…)

2) Terkadang jika “apes” bisa mendapat jatah lebih dari 10 leg yang artinya kita harus ridha untuk ditinggal selama 3 hari. Bukan hal yang luar biasa jika mereka sarapan di Jakarta, makan siang di Surabaya, lantas makan malam di Banjarmasin. Wajar jika terkadang mereka harus melihat HP untuk mengetahui di kota mana mereka berada…what’s a life….kira-kira begitu “keluhan” yang kerap terdengar. Bahkan mereka kerap tidak “sadar” kalau itu adalah akhir pekan, meski kerap diantara mereka berusaha menghibur diri sendiri dengan mengucapkan “happy weekend all…..”hihi….(:tertawa meski terasa perih di hati, tapi setidaknya mereka tersenyum karena dapat merasakan kebahagiaan orang-orang yang mereka antar berlibur).

3) Bagaimana pun juga maskapai adalah sebuah industri pencetak uang. Artinya disadari atau tidak, seperti industri lainnya akan “memeras” sumber daya yang mereka miliki untuk menghasilkan uang. Wajar jika para pilot demo akibat jadwal terbang mereka melebihi ambang kewajaran seperti Riau Airlines yang kerap menetapkan jadwal rata-rata 7 leg dalam 1 hari!

4) Hmm, tidak selamanya mereka dapat terbang. MEDEX tiap 6 bulan sekali adalah salah satu penentunya. Bagaimana jika mereka “tidak lulus” MEDEX?? Jadi rajin-rajinlah menabung. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi kesehatan pilot mulai tingkat depresi yang tinggi sampai pada gangguan kesehatan lainnya (:baca artikel Pilot dan Kesehatannya di Kompasiana).

5) Belajar untuk selalu “menghormati waktu”. Tepat waktu, on time adalah suatu keharusan. Tidak ada alasan apapun yang dapat dijadikan alasan! Termasuk macet di jalan raya! Jadi terbayangkan jam berapa mereka harus siap untuk dijemput? Sebab mereka harus sampai jauh sebelum jam keberangkatan dan mengecek semua kondisi pesawat.

6) Pahami kondisi dunia penerbangan termasuk didalamnya cuaca. Bulan Desember - Januari untuk Indonesia adalah bulan rawan. Dengan melihat kondisi cuaca maka kita dapat memperkirakan ketepatan waktu kedatangan mereka.

7) Sama seperti dokter, mereka harus disiap menerima tilp yang menanyakan dimana mereka berada dan siap untuk di re-schedule, atau mendadak dapat panggilan terbang terlebih jika statusnya stand by.

8) Horee!! Ayah sudah datang!! Lantas?? Hihi….tidak seperti “profesi kebanyakan” yang dengan seenaknya kita bisa meminta kelegaan hati mereka untuk “terjun” membantu pekerjaan rumah tangga. Beri mereka “waktu untuk melepaskan ketengangan”. Sehebat apapun pilot, tekanan saat take off dan landing tetap ada sebab “keselamatan penerbangan” dan terutama penumpang ada dipundak mereka. Hitungannya menurut pengakuan salah seorang dari mereka misalnya dalam kondisi peak season seperti lebaran dan natal untuk boeing 737-300 kapasitas maksimum 149 hitungannya 149 penumpang ditambah 3 (istri dan 2 anak) plus FA (flight attendant) dengan hitungan yang sama.

Kurang lebih seperti itulah “menjadi istri seorang pilot”. Kemandirian seorang istri pilot adalah mutlak. Bagaimana mengatasi listrik mati saat mereka ron 3 malam, atau bahkan ketika anak sakit harus masuk rumah sakit, well….kita tidak bisa seenaknya telpon “Ayah cepetan pulang, si A masuk rumah sakit!” Atau kecilnya mereka tidak ada waktu untuk mengurusi hal yang “remeh temeh” seperti ambil rapor….termasuk jika kita sakit….^_~ tapi percaya sama dengan pecinta lainnya mereka akan berusaha semaksimal mungkin demi orang-orang yang mereka cintai untuk mensyukuri hari ulang tahun mereka dengan makan malam romantis sekalipun mereka harus meminta pertolongan sahabat mereka untuk saling menukar jadwal.

Satu hal yang pasti, menjadi istri seorang pilot berarti kita tiada boleh letih berdoa demi keselamatan pasangan kita. belum lagi kalau kita soulmate, kondisi darurat apa yang dihadapi dapat benar-benar kita rasakan, seolah melihat “maut” didepan mata dan kita sadar bahwa keselamatan penumpang dan seluruh crew berada di tangan kita….seperti terhimpit beban yang begitu kuat dan nyaris tak mampu bernafas….namun kita tetap harus mampu berpikir jernih, menganalisa dengan berusaha tetap tenang….

Tapi sekali lagi ini hanyalah dalam pandangan saya yang pastinya jauh dari kesempurnaan. Intinya sih “menjadi istri pilot?? Siapkah??” Fasten your seat belt please….^_^
di ketik langsung dari BB saya dalam perjalanan dari Jakarta menuju Semarang….salam, teriring doa bagi semua yang ada dalam perjalanan….
Sabtu, 24 Desember 2011 pukul 2:59

sudah dimuat di : http://sosbud.kompasiana.com/2011/12/24/menjadi-istri-pilot-siapkah-424799.html

Senin, 08 Oktober 2012

Belajar Memimpin dari Pilot

“Ladies and gentlemen, this is your captain speaking. We have a small problem. All four engines have stopped. We are doing our damnedest to get them going again. I trust you are not in too much distress.” (captain. Eric Moody)

Menganalogikan memimpin sebuah negara dengan sebuah penerbangan kerap kita lakukan sedari dulu. Meski ada beberapa analogi tersebut terasa kurang tepat seperti pada saat sebuah media cetak ternama yang juga mengangkat tema yang sama dalam sebuah dialog di media televisinya dengan tajuk “Negara Autopilot” meski saya pahami peristilahan itu digunakan untuk menyindir tentang keberadaan pilot (pemimpin negara).
Istilah tinggal landas misalnya sangat akrab di telinga kita pada Era kepemimpinan Presiden Soeharto. “Telah menjadi tekad nasional kita yang sebulat-bulatnya, seperti yang kita amanatkan sendiri pada diri kita dalam GBHN 1983, bahwa dalam Repelita IV itu kita akan menciptakan kerangka landasan dan dalam Repelita V melanjutkannya dalam usaha mewujudkan landasan yang kukuh kuat bagi terciptanya masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Di saat itulah –mulai Repelita ke-VI– kita akan mampu tinggal landas menuju masyarakat yang kita cita-citakan.” Begitulah salah satu nukilan paragraf dalam Pidato Kenegaraan Presiden Soeharto didepan DPR RI pada 16 Agustus 1984.
Ibarat terbang, agar dapat take off dengan baik, maka sebuah pesawat harus melaju begitu kencang dan kuat dengan tetap menjaga keseimbangan dengan bantuan dua sisi sayap agar tidak terhempas ke daratan dan justru membuat celaka para penumpang didalamnya.
Jika negara kita dianalogikan dengan negeri autopilot, secara tidak langsung yang menganalogikan negara kita dengan istilah tersebut mengakui bahwa kita telah take off dan telah meninggalkan landasan dan tengah cruising. Sebab sistem autopilot sepemahaman saya dioperasikan setelah pesawat dalam keadaan cruising.
Sebab sejauh ini pesawat yang dapat dioperasikan secara auto (tanpa pilot) dari take off, cruising hingga landing biasanya hanya berfungsi sebagai pengintai, pembuat peta, pembuat foto udara dll namun belum pernah ada pesawat dengan penumpang yang dapat dioperasikan secara auto dari take off hingga landing.
Pesawat penumpang sejauh ini tidak pernah di design untuk melakukan take-off dengan Autopilot. Autopilot baru boleh dioperasikan minimum pada 400feet AGL (Above Ground Level) atau 400 kaki dari permukaan untuk pesawat penumpang berkapasitas besar seperti boeing atau 30 feet untuk pesawat berjenis Fokker 100/70 atau 100 feet/5 second after lift off untuk jenis pesawat penumpang Airbus. Untuk mengoperasikan sistem autopilot, sebelum take-off, para FO (first Officer/co-pilot) sudah mengkalkulasikan berapa persentase center of gravity (: titik Berat )berdasarkan peletakan payload (: daya angkut pesawat) di dalam pesawat yang menentukan berapa unit stabtrim (: sistem yang digunakan untuk menjaga stabilitas horisontal saat pesawat terbang) yang dibutuhkan.
PILOT KOMUNIKATIF
Ada perkembangan yang menarik saat menikmati penerbangan belakangan ini. Para Pilot maupun FOO lebih komunikatif. Layaknya penyiar radio menginformasikan waktu tempuh, berapa ketinggian saat menjelajah angkasa, cuaca serta terkadang beberapa kondisi yang harus dihadapi dalam penerbangan. “Dalam penerbangan ini kita akan terbang cuaca yang kurang baik sehingga kita akan mengalami guncangan-guncangan kecil, “ begitu kalimat yang disampaikan Captain Laurencius yang saya dengar dalam penerbangan dari Polonia ke Soekarno Hatta.
Namun yang menarik untuk dipelajari adalah sekomunikatif apapun seorang Pilot/co pilot namun tidak pernah pilot/co pilot menyampaikan perasaannya yang cemas, ketakutan atau khawatir ataupun merasa terancam saat menerbangkan pesawatnya sekalipun pada saat terbang dalam cuaca buruk. Itulah salah satu hakekat “kepemimpinan” sesungguhnya dalam pandangan saya.
Seorang pemimpin, layaknya seorang pilot harus mampu memisahkan informasi yang seharusnya diketahui oleh penumpangnya dalam batasan-batasan dengan diketahuinya informasi tersebut penumpang akan lebih siap menghadapi segala kemungkinan terburuk. Seburuk apapun kondisi yang harus dihadapi sebuah penerbangan seorang pemimpin layaknya seorang pilot harus benar-benar menyaring informasi yang ingin dikomunikasikan ke penumpang seperti yang dilakukan Captain Eric Moody. Meski ke-4 mesin British Airways Nomor Penerbangan 9 Captain pada 24 Juni 1982 mati karena abu vulkanik Galunggung, namun dengan tenang Captain Eric Moody berusaha menyampaikan kondisi yang dialami dalam penerbangan dan meminta penumpang tetap tenang.
 Telah dimuat dalam :  http://politik.kompasiana.com/2012/02/27/belajar-memimpin-dari-pilot/ OPINI | 27 February 2012 | 15:29

Kamis, 12 Juli 2012

Felix Y. Siauw, Curahan Hati Seorang Keturunan Cina Muslim di Indonesia

 
Jul 30, 2011  

Nama saya Felix Y. Siauw, kelahiran Palembang 26 tahun yang lalu, dan setidaknya dalam jangka waktu yang lebih dari ¼ abad itu saya sudah merasakan banyak sekali kesulitan dan kebahagiaan hidup. Setidaknya ada 4 momen paling bahagia bagi saya, yaitu tahun 2002 ketika saya memutuskan untuk mengganti keyakinan dengan mengakui Allah swt. sebagai satu-satunya Tuhan dan sesembahan. Tahun 2006 ketika saya menikahi seorang muslimah yang kelak memberikan saya 2 momen bahagia lagi; kelahiran Alila Shaffiya asy-Syarifah pada tahun 2008 dan Shifr Muhammad al-Fatih 1453 pada tahun 2010.
Dari nama yang saya publish, sebagian besar pasti memahami bahwasanya saya tergolong etnis Cina. Dan inilah salahsatu sebab kenapa saya menulis tulisan ini, disamping alasan utamanya adalah karena kewajiban mendakwahkan Islam dan pemikiran-pemikirannya ke seluruh dunia. Ini adalah sebuah curahan hati dan aduan serta penjelasan dari seorang Ayah, Muslim-“Cina”. Walaupun banyak kasus lain yang saya alami berkaitan dengan ide bid’ah nasionalisme yang diwariskan Belanda dan Barat, saya akan sedikit memfokuskan pada satu kisah yang baru saja saya alami. Berawal ketika Istri saya yang melahirkan anak keduanya di RS. Budi Kemuliaan Jakarta Pusat, setelah itu seperti biasa, atas nama pribadi ada beberapa karyawan yang menawarkan jasa pembuatan akte kelahiran putra saya. Dan kami pun menyambut baik tawaran yang dibandrol dengan harga Rp. 100.000. Tak berapa lama, setelah karyawan tadi melihat fisik saya, lalu dia bertanya pada istri: “Bu, bapaknya muslim bukan? keturunan ya?” “Muslim kok, emang kenapa mbak?” Jawab istri saya santai, 

“Nikahnya pake cara Islam kan?, karena kalo nikahnya beda agama susah ngurusnya bu, dan beda juga biayanya..” “Ya Islam lah, bedanya apa mbak”, sedikit terintimidasi, Istri saya tetap berusaha santai “Kalo pribumi 100.000 kalo keturunan 250.000” Setelah memberitahu saya perihal percakapan ini, dengan agak kesal saya pun mencoba membuktikan perkataan istri saya tadi. Ternyata benar, ada diskriminasi kepengurusan akte kelahiran, dan dokumen yang diperlukan pun lebih daripada yang biasanya. Walau saya desak dengan berbagai dalil, termasuk dengan dalil bahwa penghapusan istilah WNI Keturunan sudah dilakukan, tetap saja tidak ada penjelasan yang memadai kepada saya. Bertambah kekesalan saya, maka saya memutuskan untuk mengurus sendiri akte kelahiran anak kedua saya. Bukan masalah uang, ini masalah ide kufur yang tidak perlu diberikan ruang toleransi. Langkah pertama adalah melakukan browsing ke Internet ke alamat Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil ; http://www.kependudukancapil.go.id/index.php/produk-a-layanan/akta-kelahiran, dan disitu saya mendapatkan informasi bahwa pembuatan akte kelahiran biayanya gratis s/d Rp. 5000. Dan syaratnya: Surat Keterangan Lahir, KK, KTP Orangtua, dan Surat Pengantar RT/RW yang dilegalkan Kelurahan. Ternyata setelah saya datang pada hari Rabu, 07 Juli 2010, petugas malah meminta akte kelahiran untuk dikonfirmasi apakah saya warga keturunan atau bukan. Dan sekali lagi saya katakan bahwa urusan keturunan sudah tidak ada, semua yang dilahirkan di tanah Indonesia adalah WNI. Dan setelah itu akhirnya saya tetap diminta membayar Rp. 70.000, sebelum membayar saya menanyakan bukti pembayarannya, sedikit gagap petugas menyatakan bahwa lembar bukti penyerahan dokumen sudah dianggap menjadi bukti pembayaran (nanti coba kita liat ya). 

Dan yang paling menyakitkan, ditulis lagi dalam keterangan permintaan akte kelahiran bahwa anak saya termasuk Stbld. 1917. Lalu dengan serius saya tanyakan: “Masih berlaku tuh stbld?” “Oh masih pak, semuanya harus ditulis begitu” “Oh gitu, kirain jaman belanda aja pake stbld!” sindiran dari saya yang tampaknya tidak dipahami petugas bersangkutan. Ok, cukup cerita pendahuluan saya, sekarang kita masuk ke pokok pembahasan. 1. Inilah budaya pegawai negeri Indonesia yang jauh dari kesan profesional dan korup, birokrasi yang terbiasa tidak jujur dan selalu mencari kesempatan atas minimnya data yang mereka beri kepada masyarakat yang membutuhkan pelayanan. Sehingga seolah-olah masyarakat yang harus membayar mereka karena pelayanan itu, padahal pelayanan mereka sudah dibayar oleh negara. Sampai setelah saya membayar Rp. 70.000 itu, saya tidak mengetahui kemana uang ini dialokasikan, dan parahnya yang menerima uang ini adalah muslim. Saya terima kalau yang melakukan korupsi ini bila bukan muslim, tapi pelakunya sekali lagi adalah muslim, yang seharusnya menjadi pekerja yang paling jujur karena aqidahnya memerintahkan begitu 2.
Budaya rasialis dan nasionalisme kampungan rupanya masih menjadi mental ummat Islam saat ini. Mereka membedakan antara pribumi dan keturunan. Tanpa mereka ketahui bahwa cara ini adalah strategi utama belanda dalam melakukan politik divide et impera dan menghancurkan sendi ekonomi dan masyarakat. Politik rasialis ini dimulai ketika VOC dan Pemerintah Belanda membagi kelompok masyarakat menjadi Inlander (pribumi) dan Vreemde Oosterlinge (Orang Timur Asing, termasuk Cina, Arab dan India)(lihat http://www.jakarta.go.id/jakv1/encyclopedia/detail/3523), lalu memberikan akses ekonomi kepada Vreemde Oosterlinge terutama orang Cina sehingga pecahlah permusuhan dan kebencian antara Inlander dan Vreemde Oosterlinge (lihat Buku Api Sejarah, Ahmad Mansur Suryanegara). Politik rasialis ini bahkan dimulai semenjak awal pencatatan akta kelahiran dengan membedakan antara Inlander dan Vreemde Oosterlinge, antara agama penjajah Belanda Kristen dan Katolik serta Islam. Lihat saja akte kelahiran Anda yang muslim pribumi akan mendapatkan kode Stbld. 1920, sedangakan yang nasrani pribumi mendapatkan kode Stbld. 1933, warga keturunan dari timur (Cina, Arab, India, dan lainnya) dengan Stbld. 1917 (lihat http://www.jasaumum.com/akteKelahiran.htm). 

Akta kelahiran inilah yang menjadi dasar dalam perbedaan perilaku penjajah Belanda dalam masalah pendidikan, pekerjaan dan status sosial. Sayangnya (baca: bodohnya), pemerintah Indonesia justru mengadopsi Stbld. (Staatsblad, artinya Peraturan Pemerintah Belanda) menjadi aturan dalam pencatatan kelahiran yang otomatis dari awal sudah membedakan membuat rasial penduduknya berdasarkan cara penjajah Belanda membedakannya. Jadi ketahuan sekali bahwa negara kita secara hukum dan ekonomi masih terjajah dan samasekali belum merdeka. Nah, wajar kan kalau kita liat konflik horizontal maupun vertikal atas nama etnis masih terjadi di negeri ini? karena memang dari awal pemerintah Indonesia sudah meniatkannya. Membebek penjajah Belanda. Dan hampir sebagian besar hukum kita adalah adopsi Belanda. Belum puas rupanya dijajah 350 tahun?! Inilah ikatan-ikatan yang merusak dan terbukti menimbulkan perpecahan dan konflik yang tak berkesudahan. Ikatan yang muncul dari pemikiran yang dangkal dan sempit. Ikatan etnisitas, kekauman dan juga termasuk ikatan nasionalisme kampungan. Ikatan inilah yang menyebabkan muslim Indonesia tidak memperdulikan muslim Palestina hanya karena dibatasi oleh garis-garis khayal batas negara. Ikatan ini juga yang memenangkan penjajah Belanda ketika membelah ummat Islam Indonesia atas nama etnis. Dan ikatan ini pula yang menyebabkan Arab Saudi, Yordan, Turki, Mesir, Irak, Iran dan semua negara muslim saat ini terpecah belah padahal dahulunya mereka adalah satu kekuatan. Inilah sebuah ikatan palsu yang harus dimusnahkan: fanatisme golongan, bangsa dan semacamnya yang kita kenal dengan kata ashabiyah. Padahal Rasulullah dengan sangat jelas telah mewanti-wanti agar kita jangan membedakan diri berdasarkan sesuatu yang tidak pernah dipilih manusia atau bagian dari qadar Allah.

 إن الله لا ينظر إلى صوركم ولا إلى أجسامكم ولكن ينظر إلى قلوبكم وإلى أعمالكم Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada wajah kalian dan tidak pula kepada bentuk tubuh kalian, akan tetapi Allah melihat qalbu (akal dan hati) kalian dan perbuatan kalian (HR Muslim, Ahmad dan Ibnu Majah dari Abu Hurrairah) Maka benarlah dalam aturan kewarganegaraan Daulah Madinah ketika Rasulullah saw. menjadi kepala negara, beliau saw. hanya membedakan 2 jenis penduduk; muslim dan kafir. Begitu pula yang dilaksanakan Khulafaur Rasyidin setelah beliau dan Khalifah-khalifah setelah mereka sampai runtuhnya Daulah Khilafah Islam Utsmaniyah tahun 1924. Artinya pembedaan kewarganegraan adalah berdasarkan pengakuannya atas Islam, bukan yang lain seperti fanatisme golongan atau bangsa. Juga larangan sempurna dari Rasulullah atas sikap fanatisme golongan, bangsa dan semacamnya yang dirangkum dalam larangan ashabiyah 

ومن قاتل تحت راية عمّيّة يغضب لعصبة، أو يدعو إلى عصبة، أو ينصر عصبة، فقتل، فقتلة جاهليّة Siapa saja yang berperang di bawah panji kebodohan marah kerena suku, atau menyeru kepada suku atau membela suku lalu terbunuh maka ia terbunuh secara jahiliyah (HR Muslim) 

ليس منا من دعا إلى عصبية، وليس منا من قاتل على عصبية، وليس منا من مات على عصبية Bukan dari golongan kami siapa saja yang mengajak kepada ashabiyah, bukan pula dari golongan kami orang yang berperang karena ashabiyah, dan tidak juga termasuk golongan kami orang yang mati karena ashabiyah (HR Abu Dawud) Tidak ada keistimewaan khusus karena warna kulit, karena jenis dan karena tanah air. Dan tidak halal seorang muslim merasa fanatik (ta’ashub) karena warna kulitnya melebihi kulit orang lain, karena golongannya melebihi golongan lain dan karena daerahnya melebihi daerah orang lain. Pribumi ataupun keturunan. Bahkan Islam menaruh ikatan semacam ini dalam posisi yang paling rendah karena pemikiran semacam ini adalah batil. Tapi inilah kondisi masyarakat dan ummat, mereka mempunyai cap tertentu bagi etnis tertentu, dan akhirnya bukan melihat karena ketakwaannya tetapi karena bentuk wajahnya. Hanya karena seseorang berwajah Arab lantas setiap bertemu tangannya dicium, karena persangkaan bahwa arab identik dengan Islam (ironis). Hanya karena seseorang berwajah Cina lantas diidentikkan dengan kafir? (lebih ironis), lebih aneh lagi kalau ketemu bule semuanya serba senang, sumringah dan berjalan menunduk (kacau). Inilah mental-mental terjajah, mental yang sangat ridha dan bangga kepada negara yang menjajahnya tapi lupa sama sekali dengan Tuhan yang menciptakan dirinya dan memberinya kenikmatan. Padahal kita semua sebagai muslim tidak diseru kecuali berpegang pada aqidah yang satu, ikatan yang satu, perintah yang satu dan kepemimpinan yang satu. Tauhid dalam segala bidang.

 وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai (QS ali Imraan [3]: 103) Seandainya saja Rasulullah masih ada, maka tentu dia akan menghapuskan segala macam diskriminasi dan rasialisme yang diwariskan dunia Barat kepada kaum muslim. Seandainya saja Umar bin Khattab masih ada, maka pastilah beliau sendiri yang akan menghunus pedangnya untuk memenggal penyeru ashabiyah. Tapi mereka telah tiada, namun bukan tanpa warisan. Rasulullah menyiapkan sebuah sistem buat ummatnya agar ummatnya dapat bersatu padu dan kuat dalam satu kepemimpinan di seluruh dunia. Insya Allah saat Khilafah Islam tegak satu saat nanti, Khalifah lah yang akan mengomando kaum muslim membunuh ashabiyah.
Nama saya Felix Y. Siauw, kelahiran Palembang 26 tahun yang lalu, dan setidaknya dalam jangka waktu yang lebih dari ¼ abad itu saya sudah merasakan banyak sekali kesulitan dan kebahagiaan hidup. Setidaknya ada 4 momen paling bahagia bagi saya, yaitu tahun 2002 ketika saya memutuskan untuk mengganti keyakinan dengan mengakui Allah swt. sebagai satu-satunya Tuhan dan sesembahan. Tahun 2006 ketika saya menikahi seorang muslimah yang kelak memberikan saya 2 momen bahagia lagi; kelahiran Alila Shaffiya asy-Syarifah pada tahun 2008 dan Shifr Muhammad al-Fatih 1453 pada tahun 2010. Felix Y. Siauw curahan hati seorang warga keturunan Tionghoa Muslim di Indonesia Felix Y. Siauw curahan hati seorang warga keturunan Tionghoa Muslim di Indonesia Dari nama yang saya publish, sebagian besar pasti memahami bahwasanya saya tergolong etnis Cina. Dan inilah salahsatu sebab kenapa saya menulis tulisan ini, disamping alasan utamanya adalah karena kewajiban mendakwahkan Islam dan pemikiran-pemikirannya ke seluruh dunia. Ini adalah sebuah curahan hati dan aduan serta penjelasan dari seorang Ayah, Muslim-“Cina”. Walaupun banyak kasus lain yang saya alami berkaitan dengan ide bid’ah nasionalisme yang diwariskan Belanda dan Barat, saya akan sedikit memfokuskan pada satu kisah yang baru saja saya alami. Berawal ketika Istri saya yang melahirkan anak keduanya di RS. Budi Kemuliaan Jakarta Pusat, setelah itu seperti biasa, atas nama pribadi ada beberapa karyawan yang menawarkan jasa pembuatan akte kelahiran putra saya. Dan kami pun menyambut baik tawaran yang dibandrol dengan harga Rp. 100.000. Tak berapa lama, setelah karyawan tadi melihat fisik saya, lalu dia bertanya pada istri: “Bu, bapaknya muslim bukan? keturunan ya?” “Muslim kok, emang kenapa mbak?” Jawab istri saya santai, “Nikahnya pake cara Islam kan?, karena kalo nikahnya beda agama susah ngurusnya bu, dan beda juga biayanya..” “Ya Islam lah, bedanya apa mbak”, sedikit terintimidasi, Istri saya tetap berusaha santai “Kalo pribumi 100.000 kalo keturunan 250.000” Setelah memberitahu saya perihal percakapan ini, dengan agak kesal saya pun mencoba membuktikan perkataan istri saya tadi. Ternyata benar, ada diskriminasi kepengurusan akte kelahiran, dan dokumen yang diperlukan pun lebih daripada yang biasanya. Walau saya desak dengan berbagai dalil, termasuk dengan dalil bahwa penghapusan istilah WNI Keturunan sudah dilakukan, tetap saja tidak ada penjelasan yang memadai kepada saya. Bertambah kekesalan saya, maka saya memutuskan untuk mengurus sendiri akte kelahiran anak kedua saya. Bukan masalah uang, ini masalah ide kufur yang tidak perlu diberikan ruang toleransi. Langkah pertama adalah melakukan browsing ke Internet ke alamat Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil ; http://www.kependudukancapil.go.id/index.php/produk-a-layanan/akta-kelahiran, dan disitu saya mendapatkan informasi bahwa pembuatan akte kelahiran biayanya gratis s/d Rp. 5000. Dan syaratnya: Surat Keterangan Lahir, KK, KTP Orangtua, dan Surat Pengantar RT/RW yang dilegalkan Kelurahan. Ternyata setelah saya datang pada hari Rabu, 07 Juli 2010, petugas malah meminta akte kelahiran untuk dikonfirmasi apakah saya warga keturunan atau bukan. Dan sekali lagi saya katakan bahwa urusan keturunan sudah tidak ada, semua yang dilahirkan di tanah Indonesia adalah WNI. Dan setelah itu akhirnya saya tetap diminta membayar Rp. 70.000, sebelum membayar saya menanyakan bukti pembayarannya, sedikit gagap petugas menyatakan bahwa lembar bukti penyerahan dokumen sudah dianggap menjadi bukti pembayaran (nanti coba kita liat ya). Dan yang paling menyakitkan, ditulis lagi dalam keterangan permintaan akte kelahiran bahwa anak saya termasuk Stbld. 1917. Lalu dengan serius saya tanyakan: “Masih berlaku tuh stbld?” “Oh masih pak, semuanya harus ditulis begitu” “Oh gitu, kirain jaman belanda aja pake stbld!” sindiran dari saya yang tampaknya tidak dipahami petugas bersangkutan. Ok, cukup cerita pendahuluan saya, sekarang kita masuk ke pokok pembahasan. 1. Inilah budaya pegawai negeri Indonesia yang jauh dari kesan profesional dan korup, birokrasi yang terbiasa tidak jujur dan selalu mencari kesempatan atas minimnya data yang mereka beri kepada masyarakat yang membutuhkan pelayanan. Sehingga seolah-olah masyarakat yang harus membayar mereka karena pelayanan itu, padahal pelayanan mereka sudah dibayar oleh negara. Sampai setelah saya membayar Rp. 70.000 itu, saya tidak mengetahui kemana uang ini dialokasikan, dan parahnya yang menerima uang ini adalah muslim. Saya terima kalau yang melakukan korupsi ini bila bukan muslim, tapi pelakunya sekali lagi adalah muslim, yang seharusnya menjadi pekerja yang paling jujur karena aqidahnya memerintahkan begitu 2. Budaya rasialis dan nasionalisme kampungan rupanya masih menjadi mental ummat Islam saat ini. Mereka membedakan antara pribumi dan keturunan. Tanpa mereka ketahui bahwa cara ini adalah strategi utama belanda dalam melakukan politik divide et impera dan menghancurkan sendi ekonomi dan masyarakat. Politik rasialis ini dimulai ketika VOC dan Pemerintah Belanda membagi kelompok masyarakat menjadi Inlander (pribumi) dan Vreemde Oosterlinge (Orang Timur Asing, termasuk Cina, Arab dan India)(lihat http://www.jakarta.go.id/jakv1/encyclopedia/detail/3523), lalu memberikan akses ekonomi kepada Vreemde Oosterlinge terutama orang Cina sehingga pecahlah permusuhan dan kebencian antara Inlander dan Vreemde Oosterlinge (lihat Buku Api Sejarah, Ahmad Mansur Suryanegara). Politik rasialis ini bahkan dimulai semenjak awal pencatatan akta kelahiran dengan membedakan antara Inlander dan Vreemde Oosterlinge, antara agama penjajah Belanda Kristen dan Katolik serta Islam. Lihat saja akte kelahiran Anda yang muslim pribumi akan mendapatkan kode Stbld. 1920, sedangakan yang nasrani pribumi mendapatkan kode Stbld. 1933, warga keturunan dari timur (Cina, Arab, India, dan lainnya) dengan Stbld. 1917 (lihat http://www.jasaumum.com/akteKelahiran.htm). Akta kelahiran inilah yang menjadi dasar dalam perbedaan perilaku penjajah Belanda dalam masalah pendidikan, pekerjaan dan status sosial. Sayangnya (baca: bodohnya), pemerintah Indonesia justru mengadopsi Stbld. (Staatsblad, artinya Peraturan Pemerintah Belanda) menjadi aturan dalam pencatatan kelahiran yang otomatis dari awal sudah membedakan membuat rasial penduduknya berdasarkan cara penjajah Belanda membedakannya. Jadi ketahuan sekali bahwa negara kita secara hukum dan ekonomi masih terjajah dan samasekali belum merdeka. Nah, wajar kan kalau kita liat konflik horizontal maupun vertikal atas nama etnis masih terjadi di negeri ini? karena memang dari awal pemerintah Indonesia sudah meniatkannya. Membebek penjajah Belanda. Dan hampir sebagian besar hukum kita adalah adopsi Belanda. Belum puas rupanya dijajah 350 tahun?! Inilah ikatan-ikatan yang merusak dan terbukti menimbulkan perpecahan dan konflik yang tak berkesudahan. Ikatan yang muncul dari pemikiran yang dangkal dan sempit. Ikatan etnisitas, kekauman dan juga termasuk ikatan nasionalisme kampungan. Ikatan inilah yang menyebabkan muslim Indonesia tidak memperdulikan muslim Palestina hanya karena dibatasi oleh garis-garis khayal batas negara. Ikatan ini juga yang memenangkan penjajah Belanda ketika membelah ummat Islam Indonesia atas nama etnis. Dan ikatan ini pula yang menyebabkan Arab Saudi, Yordan, Turki, Mesir, Irak, Iran dan semua negara muslim saat ini terpecah belah padahal dahulunya mereka adalah satu kekuatan. Inilah sebuah ikatan palsu yang harus dimusnahkan: fanatisme golongan, bangsa dan semacamnya yang kita kenal dengan kata ashabiyah. Padahal Rasulullah dengan sangat jelas telah mewanti-wanti agar kita jangan membedakan diri berdasarkan sesuatu yang tidak pernah dipilih manusia atau bagian dari qadar Allah. إن الله لا ينظر إلى صوركم ولا إلى أجسامكم ولكن ينظر إلى قلوبكم وإلى أعمالكم Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada wajah kalian dan tidak pula kepada bentuk tubuh kalian, akan tetapi Allah melihat qalbu (akal dan hati) kalian dan perbuatan kalian (HR Muslim, Ahmad dan Ibnu Majah dari Abu Hurrairah) Maka benarlah dalam aturan kewarganegaraan Daulah Madinah ketika Rasulullah saw. menjadi kepala negara, beliau saw. hanya membedakan 2 jenis penduduk; muslim dan kafir. Begitu pula yang dilaksanakan Khulafaur Rasyidin setelah beliau dan Khalifah-khalifah setelah mereka sampai runtuhnya Daulah Khilafah Islam Utsmaniyah tahun 1924. Artinya pembedaan kewarganegraan adalah berdasarkan pengakuannya atas Islam, bukan yang lain seperti fanatisme golongan atau bangsa. Juga larangan sempurna dari Rasulullah atas sikap fanatisme golongan, bangsa dan semacamnya yang dirangkum dalam larangan ashabiyah ومن قاتل تحت راية عمّيّة يغضب لعصبة، أو يدعو إلى عصبة، أو ينصر عصبة، فقتل، فقتلة جاهليّة Siapa saja yang berperang di bawah panji kebodohan marah kerena suku, atau menyeru kepada suku atau membela suku lalu terbunuh maka ia terbunuh secara jahiliyah (HR Muslim) ليس منا من دعا إلى عصبية، وليس منا من قاتل على عصبية، وليس منا من مات على عصبية Bukan dari golongan kami siapa saja yang mengajak kepada ashabiyah, bukan pula dari golongan kami orang yang berperang karena ashabiyah, dan tidak juga termasuk golongan kami orang yang mati karena ashabiyah (HR Abu Dawud) Tidak ada keistimewaan khusus karena warna kulit, karena jenis dan karena tanah air. Dan tidak halal seorang muslim merasa fanatik (ta’ashub) karena warna kulitnya melebihi kulit orang lain, karena golongannya melebihi golongan lain dan karena daerahnya melebihi daerah orang lain. Pribumi ataupun keturunan. Bahkan Islam menaruh ikatan semacam ini dalam posisi yang paling rendah karena pemikiran semacam ini adalah batil. Tapi inilah kondisi masyarakat dan ummat, mereka mempunyai cap tertentu bagi etnis tertentu, dan akhirnya bukan melihat karena ketakwaannya tetapi karena bentuk wajahnya. Hanya karena seseorang berwajah Arab lantas setiap bertemu tangannya dicium, karena persangkaan bahwa arab identik dengan Islam (ironis). Hanya karena seseorang berwajah Cina lantas diidentikkan dengan kafir? (lebih ironis), lebih aneh lagi kalau ketemu bule semuanya serba senang, sumringah dan berjalan menunduk (kacau). Inilah mental-mental terjajah, mental yang sangat ridha dan bangga kepada negara yang menjajahnya tapi lupa sama sekali dengan Tuhan yang menciptakan dirinya dan memberinya kenikmatan. Padahal kita semua sebagai muslim tidak diseru kecuali berpegang pada aqidah yang satu, ikatan yang satu, perintah yang satu dan kepemimpinan yang satu. Tauhid dalam segala bidang. وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai (QS ali Imraan [3]: 103) Seandainya saja Rasulullah masih ada, maka tentu dia akan menghapuskan segala macam diskriminasi dan rasialisme yang diwariskan dunia Barat kepada kaum muslim. Seandainya saja Umar bin Khattab masih ada, maka pastilah beliau sendiri yang akan menghunus pedangnya untuk memenggal penyeru ashabiyah. Tapi mereka telah tiada, namun bukan tanpa warisan. Rasulullah menyiapkan sebuah sistem buat ummatnya agar ummatnya dapat bersatu padu dan kuat dalam satu kepemimpinan di seluruh dunia. Insya Allah saat Khilafah Islam tegak satu saat nanti, Khalifah lah yang akan mengomando kaum muslim membunuh ashabiyah.

Read more at: http://www.ruanghati.com/2011/07/30/felix-y-siauw-curahan-hati-seorang-keturunan-cina-muslim-di-indonesia/

Mengapa Yang Dihancurkan Yahudi Pertama Kali Adalah Wanita?

“Seorang anak yang rusak masih bisa menjadi baik asal ia pernah mendapatkan pengasuhan seorang ibu yang baik. Sebaliknya, seorang ibu yang rusak akhlaknya, hanya akan melahirkan generasi yang rusak pula akhlaknya. Itulah mengapa yang dihancurkan pertama kali oleh Yahudi adalah wanita.”
 
Ucapan diatas dilontarkan oleh Muhammad Quthb, dalam sebuah ceramahnya puluhan tahun silam. Muhammad Quthb adalah ulama Mesir yang concern terhadap pendidikan Islam sekaligus pemikir ulung abad 20. Ia tidak hanya dikenal sebagai aktivis yang gencar melakukan perlawanan terhadap rezim Imperialisme Mesir, namun juga cendekiawan yang terkenal luas ilmunya.

Beberapa bukunya pun telah beredar di Timur Tengah dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa yang diantaranya adalah Shubuhāt Hawla al-Islām (literally “Misconceptions about Islam”).Hal nahnu Muslimūn (Are we Muslims?). Al-Insān bayna al-māddīyah wa-al-Islām. (Man between the Material World and Islam). Islam and the Crisis of the Modern World dan masih banyak lagi. Maka tak heran, lepas dari penjara ia pun mendapatkan gelar Profesor Kajian Islam di Arab Saudi.
Muhammad Quthb menekankan bagaimana pentingnya peran yang dimiliki seorang ibu dalam Islam. Ibu tidak saja adalah pihak yang dekat secara emosional kepada seorang anak, tapi ia juga memiliki pengaruh besar terhadap masa depan akhlak dari generasi yang dilahirkannya.

Menurut Muhammad Quthb anak yang pada kemudian hari mendapatkan ujian berupa kehancuran moral akan bisa diatasi, asal sang anak pernah mendapatkan pengasuhan ibu yang solehah. Pendidikan Islami yang terinternalisasi dengan baik, akan membuat sang anak lekas bangkit dari keterpurukannya mengingat petuah-petuah rabbani yang pernah terekam dalam memorinya.
Sebaliknya, ayah yang memiliki istri yang sudah rusak dari awalnya, maka ia pun hanya akan melahirkan sebuah keturunan yang memiliki kepribadian persis dengan wanita yang dipinangnya. Sifat alami anak yang banyak mengimitasi perilaku sang ibu akan membuka peluang transferisasi sifat alami ibu kepada anaknya.

Maka kerusakan anak akan amat tergantung dari kerusakan ibu yang mendidiknya. Oleh karena itu, dalam bukunya Ma’rakah At Taqaaliid, Muhammad Quthb mengemukakan alasan mengapa Islam mengatur konsep pendidikan yang terkait dengan arti kehadiran ibu dalam keluarga. Ia menulis: 
“Dalam anggapan Islam, wanita bukanlah sekadar sarana untuk melahirkan, mengasuh, dan menyusui. Kalau hanya sekedar begitu, Islam tidak perlu bersusah payah mendidik, mengajar, menguatkan iman, dan menyediakan jaminan hidup, jaminan hukum dan segala soal psikologis untuk menguatkan keberadaannya… Kami katakan mengapa ‘mendidik’, bukan sekedar melahirkan, membela dan menyusui yang setiap kucing dan sapi subur pun mampu melakukannya.”
Konsep inilah yang tidak terjadi di Negara Barat. Barat mengalami kehancuran total pada sisi masyarakatnya karena bermula dari kehancuran moral yang menimpa wanitanya. Wanita-wanita Barat hanya dikonsep untuk mendefinisikan arti kepribadian dalam pengertian yang sangat primitif, yakni tidak lain konsep pemenuhan biologis semata.

Dosen dan pelacur bisa jadi sama kedudukannya mirip dengan perkataan Sumanto Al Qurtubhy, kader Liberal didikan Kanada yang berujar, “Lho, apa bedanya dosen dengan pelacur? Kalau dosen mencari nafkah dengan kepintarannya, maka pelacur mencari makan dengan tubuhnya.”

Qurthuby hanyalah muqollid (pengikut) dari Sigmund Freud, psikolog kenamaan asal Austria yang membumikan konsep psikoanalisis. Ia mengatakan ketika dorongan seksual sudah menggelora dalam diri pria maupun wanita, maka sudah selayaknya mereka tuntaskan lewat jalan perzinahan, tanpa harus melalui alur pernikahan. Maka itu Freud menuding orang yang senantiasa menjaga akhlaknya rentan terserang gangguan psikologis seperti neurosis.

Kini Freud memang telah mati, namun gagasan itu membekas dalam pribadi orang Barat. Jika anda kerap menyaksikan berita Olahraga, pembawa acara sering memberitakan bahwa salah seorang pemain sepakbola di Inggris telah memiliki anak dari pacarnya, ya pacar dan bukan istri. Karena konsep pernikahan sudah mendebu di benua biru.
Pasca kematian Freud, muncul banyak pengganti yang tidak lebih ekstrem, salah satunya Lawrence Kohlberg. Ia adalah pengusung metode pendidikan Karakter. Metode ini sudah gagal di Barat dan sekarang diimpor ke negeri-negeri muslim, termasuk Indonesia.

Wajah pendidikan Karakter terlihat manis. Ia mentitah agar para siswa berperilaku jujur dan memegang komitmen. Namun ia tidak memliki dasar agama, jika seorang remaja memilih untuk hidup tanpa tuhan, tidak menjadi persoalan dalam pendidikan karakter, asal itu dapat dipertanggungjawabkan.

Begitu pula masalah hubungan seks. Bagi Kohlbergian, kita tidak boleh menyalahkan seorang anak perempuan yang hamil di luar nikah, sebab masalah baik atau buruk menjadi relative. Pendidikan Karakter pun tidak boleh menghakiminya, karena anak akan jatuh salah jika ia tidak bisa mempertanggungjawabkan hubungan seksnya. Jadi jika remaja perempuan hamil masih bisa terbebas dari “dosa”, asal ia siap menjadi ibu. Urusan benar atau salah tergantung tanggung jawab, bukan agama.

Maka tak heran, ketika Lawrence Kohlberg lebih memilih bunuh diri dengan menyelam di laut yang dingin pun disambut gembira oleh masyarakat Barat. Alasannya bisa membuat kita sebagai umat muslim tertawa: Kohlberg telah memilih jalan yang memang ia kehendaki. Ya terlepas dari dia yang akan masuk neraka jahnam. Sebuah metode berfikir yang terlalu konyol untuk kita fahami.
Kita kembali lagi ke masalah perempuan. Kehidupan Barat yang bebas sejatinya diawali dari kehendak dari kalangan wanita untuk hidup bebas dan meredeka sesukanya. M. Thalib, cendekiawan muslim yang telah menulis puluhan buku tentang pendidikan Islam juga menekankan bagaimana proyek Zionis dibalik wacana pembebasan wanita di Barat. Menurutnya kaum Yahudi memiliki peran kuat dibalik slogan Liberty, Egality dan Fraiternity (kebebasan, persamaan dan persaudaraan) kepada bangsa Perancis.

Hal ini dipropagandakan oleh Zionis dan disebarkan ke penjuru dunia hingga kita bisa merasakan apa yang disebut Hak Asasi Manusia dan Feminisme pada saat ini. Dalam bukunya, “Pergaulan Bebas, Prostitusi, dan Wanita”, M. Thalib menulis, 
“Slogan-slogan inilah yang membuat orang-orang bodoh turut serta mengulang-ulanginya di seluruh penjuru dunia di kemudian hari, tanpa berfikir dan memakai akalnya lagi.”
Mungkin terasa ganjil bagi kita, mengapa Yahudi sebagai bangsa yang pongah begitu takut dengan perempuan? Jawabannya sederhana: membiarkan seorang wanita tumbuh menjadi solihah adalah alamat “kiamat” bagi mereka.

Jika seorang ibu yang solehah bisa mengasuh 5 anak muslim di keluarganya untuk tumbuh menjadi generasi mujahid. Kita bisa hitung berapa banyak generasi yang bisa dihasilkan dari 800 juta perempuan muslim saat ini? 

Seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah, “Siapakah manusia di muka Bumi ini yang harus diperlakukan dengan cara yang paling baik ?”. Rasul menjawab, “Ibumu”. “Setelah itu siapa lagi ya Rasul”. Sekali lagi Rasul menjawab, “Ibumu”. Sahabat bertanya kembali, “Kemudian siapa?”. Lagi-lagi Rasul menjawab “Ibumu, baru Ayahmu”. [Shahih, Diriwayatkan oleh Imam Bukhari).
 oleh: Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi
sumber: Eramuslim

Belajar Ditolak Cinta dari Sayyid Quthb

Oleh: Muhammad Pizzaro Novelan Tauhidi

Dialah Ulama dan Mujahid yang berani mendobrak hegemoni Sosialisme Mesir. Tumbuh dalam rimba kejahillayahan modern dan bergeming untuk turut andil melestarikannya. Walau kesenangan itu sudah berada di depan matanya. Walaupun tahta sudah siap menampuk tubuhnya. Kursi-kursi dunia itu disediakan untuk Sayyid Quthb asal ia bersedia mengakui bahwa kedaulatan Islam belumlah final. Bahwa sistem buatan manusia adalah jalan suci. Parlementari merupakan paras molek membangun kejayaan hidup. Namun apa kata Sayyid? Ia menolaknya. Baginya, rasa sosialisme, nasionalisme, bahkan demokrasi lebih pahit dari kehinaan dunia: sumir!

Sayyid Quthb menolak menafsirkan kata tauhid hanya sekedar pengakuan lisan bahwa Allah adalah Tuhan. Doktor Sastra dari Darul Ulum ini mempelajari Qur’an lebih mendalam, dan ia menyimpulkan bahwa makna tauhid lebih dari itu. Baginya tauhid sudah satu paket dengan keharusan menjalankan hukum-hukum Allah (baca: tauhid hakimiyyah) dan menolak bergabung dalam barisan oposisi tauhid. Memaknai tauhid dalam dua jurang antara al-haqq dan al-bathil yang coba disatukan adalah barisan absurditas yang sama sekali tidak akan mampu membawa Islam jaya. Meskipun itu demi “maslahat dakwah”. Sekalipun itu memakai “baju” Islam. Sayyid sudah tahu ukuran “baju” apa yang pas baginya, tidak lain adalah pengakuan Allah sebagai satu-satunya Tuhan dan kewajiban untuk mengindahkan pencampuran antara hukum Allah dengan hukum positif (baca: hukum buatan manusia). Untuk menyadarkan saudara-saudaranya, sampai-sampai ia harus menulis satu bab penuh dalam buku Dirosah Islamiyah-nya, “Ambil Islam seluruhnya atau tidak sama sekali!”

Ya Sayyid Quthb, dia bukanlah ikhwan pada umumnya. Ia bukan juga ikhwan yang mudah disetir. Membolak-balik tafsir Qur’an demi tujuan dunia. Duduk satu meja dengan musuh-musuh tuhannya, dan keluar dengan titah bahwa Islam boleh disisipi dengan isme lainnya. Itu sama saja memalukan Umat Nabi Muhammad saw. Baginya, pengalaman meneliti kebobrokan sistem pendidikan dan moral di Amerika sudah memberinya kesimpulan bahwa Islam adalah satu-satunya jalan. Bagi Quthb, produk Undang-undang buatan manusia tidak akan pernah bisa sama sekali mengantarkan manusia ke jalan Tauhidullah. Parlemen adalah ruangan tergelap di dunia, dimana ketika manusia memasukinya, ia akan tersesat dan sulit untuk mencari pintu keluar.

Mesir menjadi murka. Negara dengan cap Musolini rasa Arabia itu, meminta hidup Sayyid segera diakhiri. Apapun resikonya. Sayyid adalah bedebah bagi tirani sekularisme, namun angin semilir dalam bumbu jihadi yang menyejukkan dan mustahil berganti. “Selamat datang kematian di jalan Allah, selamat datang kehidupan abadi” ucap Sayyid dalam detik-detik menjelang syahidnya di tiang gantungan.

Perjalanan Cinta Sayyid Quthb: Jatuh Bangun Menjemput Kasih Sayang Allah

Namun dalam deretan kisah heroik itu Sayyid tumbuh dalam bingkai manusia natural. Pemuda yang memiliki niat untuk menikah memang banyak, tapi menikah dengan cara Islam dan memulai prosesnya lewat jalur tunggal berupa keikhlasan sebagai manifestasi cinta kepada Allah adalah minimum. Cinta menjadi dua sisi mata uang dalam kehidupannya: kesedihan dan ketakwaan. Tapi Sayyid Quthb tetap tegar, sekalipun dirinya mengalami dua kali jatuh cinta dan dua kali patah hati.
Seperti dikutip dari berbagai penulis yang mengambil kisah kehidupan Cinta Sayyid Quthb pada sebuah tesis mengenai dirinya, kisah cinta Quthb berjalan pertama kali saat seorang gadis datang mengetuk pintu hatinya. Dialah gadis pertama yang membangkitkan kerinduan Sayyid untuk menautkan cintanya. Embun cinta itu datang dari desa kelahiran. Namun tiga tahun sejak beliau harus menjauhkan raganya dari gadis pujaan ke Kairo untuk menuntut ilmu agama, gadis tersebut ternyata memilih menyerahkan cintanya kepada orang lain. Sayyid merasa terpukul mendengar berita ini. Tak kuasa menahan sedih, seguk tangis tak terbendung. Sangat dimaklumi bagaimana rasanya merelakan kepergian embun cinta pertama yang pernah mengisi relung jiwanya, yang pernah melambungkan asa dan melejitkan potensi kebaikannya. Cinta pertama memang indah, namun sakitnya menusuk ulu hati hingga menganga.

Embun cinta kedua lahir, menyejukkan dan membangkitkan kembali kerinduaan jiwa Sayyid untuk menautkan cintanya karena kecintaan kepada Allah. Gadis kedua ini berasal dari Kairo. Mengenai gadis ini sang Sayyid pernah menggambarkan bahwa paras gadis ini tidaklah buruk namun gagal untuk dibilang cantik. Nampaknya ada pesona lain yang memikat Sayyid sehingga merindukannya. Mungkin tatapan menyejukkan yang dibawa embun cinta ini. Sayangnya, lagi-lagi takdir tidak bermurah hati dengan cinta sang Sayyid. Di hari pertunangannya, Sayyid seakan disambar petir, pasalnya gadis tersebut sambil menangis menceritakan bahwa Sayyid adalah orang kedua yang hadir dihatinya. Perkataan gadis itu seakan meruntuhkan harapan sang Sayyid untuk mendapatkan gadis yang perawan fisiknya, perawan juga hatinya.
Sayyid akhirnya memutuskan hubungan dengan gadis Kairo tersebut, pergi membawa raganya jauh dari embun cintanya. Raga Sayyid boleh saja menjauh, namun jiwanya ternyata tak mampu melepaskan pesona sang embun cinta. Selanjutnya apa yang terjadi? Sayyid tenggelam dalam penderitaan jiwa yang selalu dibawa atas nama cinta. Kesedihan bercampur kerinduan ternyata lebih menyiksa Sayyid dibanding goresan pedang yang menyayat tubuhnya. Akhirnya Sayyid mengorbankan idealismenya kemudian pergi menjemput dan rujuk kembali dengan gadis pembawa embun cinta tersebut. Namun sayang, kali ini gadis itulah yang menolak cinta sang Sayyid.
Perih bukan main gejolak rasa yang dialami Sayyid. Ada banyak puisi yang lahir dari penderitaan yang dirasakan Sayyid tersebut. Bahkan tercipta roman-roman yang merupakan bayang-bayang romansa cinta tersebut. Inilah peristiwa kedua yang membuat luka batin sang Sayyid. Saat harapannya menggantungkan cinta terputus oleh kekuasaan takdir. Menorehkan luka yang menganga menabur kepedihan.

Namun bukan Sayyid Quthb namanya bila beliau harus hancur gara-gara cintanya yang terhempas takdir. Dengan kebesaran hati dan sikap husnudzon terhadap takdir Allah, tanpa menafikkan kesedihan yang melanda hatinya, beliau berujar kepada sang Pemilik takdir “Apakah dunia tidak menyediakan gadis impianku? Ataukah pernikahan tidak sesuai dengan kondisiku?”. Saat cinta yang dirindu tak kunjung menerimanya, maka beliau menggantungkan seluruh cintanya pada Dzat yang selalu mencintainya, yang cintanya tidak akan pernah terputus, yang cintanya kekal abadi. Cintanya Allah. Ya, Allah. KepadaNyalah beliau menumpah ruahkan seluruh cinta dan mimpi-mimpinya yang tertolak takdir, sambil berlari menjemput takdirnya yang lain.

Yang luar biasa adalah, Asy-Syahid sadar dirinya berada dalam realitas. Bukan dalam dunia ideal yang melulu posesif, indah dan tanpa aral. Kalau cinta tak mau menerimanya, biarlah ia mencari energi lain yang lebih hebat dari cinta. Ternyata energi tidak jauh-jauh dari kehidupannya, Allah lah Energi yang kemudian membawanya ke penjara selama 15 tahun. Dan di penjara itulah beliau dengan gemilang berhasil menulis tafsir Fi Dzhilalil Qur’an dengan cinta. Sebelum akhirnya harus meregang nyawa di tiang gantungan. Sendiri! Dengan cinta yang sudah tertumpah ruah semua untuk Rabbnya, hanya kepada Rabbnya.

Bahkan dalam novel Duri Dalam Jiwa yang ditulis Sayyid pada tahun 1947 sebelum Sayyid Quthb bergabung dalam gerakan Ikhwanul Muslimin. Sayyid sukses menunjukkan kepiawaiannya dalam mengolah kata dan menyajikan konflik yang pekat dengan empati, melibatkan ilmu jiwa dan penghayatan mendalam. Sulit untuk berhenti sejenak membacanya karena takut kehilangan feel yang telah didapat. Dalam novel ini kita diajak untuk merasai lika-liku perasaan manusia dalam mengolah suatu rasa yang disebut cinta, cinta antar manusia. Kita diajak menyelami dalamnya cinta dan kebodohan sekaligus tarikan magnetisnya. Kita diajar untuk menjadi pecinta sejati yang tidak takut untuk berproses mengubah rasa tidak suka menjadi rasa suka, benci menjadi cinta.

“…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah Maha Mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2] : 216)

Begitu dalam dan lembutnya Sayyid Quthb dalam bermain kata, pembaca mungkin memerlukan pikiran jernih untuk menangkap pangkal konflik. Mengutip dari pengantar dalam buku ini, di dalam novel ini, Sayyid Quthb secara halus dan lembut mengisyaratkan betapa pentingnya arti keperawanan seorang gadis, karena begitu hal ini diragukan maka persoalan pelik pun akan muncul. Ada perasaan terhina dan luka hati bagai tertusuk duri dan dapat menjadi beban sepanjang hidup.
Membaca buku ini menjadi suatu kenikmatan tersendiri. Begitu banyak hikmah implisit dalam tiap lika-liku perasaan para tokoh yang dihadirkan: cinta, kejujuran, ketulusan, pengorbanan, kepasrahan, dan keberanian.

Problematika Cinta: Sebuah Refleksi

Kita mungkin pernah sama-sama merasakan layaknya seperti Sayyid Quthb bahwa ada suatu fase dalam hidup kita saat dimana pikiran, hati, kaki, tangan, dan jiwa kita disinggahi oleh cinta. Bahkan kita juga sempat mencicipi bagaimana segala kebahagiaan hidup ditentukan dari kesuksesan cinta dalam balutan standar manusia. Pada konten ini kemudian cinta berubah menjadi sayembara yang kerap melontarkan kata-kata penjara jiwa seperti “Hidup kita hancur tanpa keberhasilan menaklukan cinta”. Sedangkan, remaja kerap berkata, “Jika mempunyai kekasih, belajar rasanya akan lebih termotivasi”. Malah bisa jadi ada sumpah serapah yang terlontar kepada laki-laki atau perempuan yang telah mengkhianati cinta kita. Ikhwatifillah, tanpa disadari ternyata kita sudah meletakkan sesuatu yang pasti kepada manusia yang lemah, individu yang justru tak tahu masa depan itu sendiri!
Ketika kita mulai menjajakan cinta dan menggantungkan harapan cinta itu kepada manusia, yakinlah ikhwah, yang ada hanyalah kekecewaan, karena kemampuan manusia sangatlah terbatas. Ia tidak bisa memastikan, lebih-lebih menjadi penentu takdir kita. Padahal manusia tetaplah manusia dengan segala kelemahannya. Adagium, sepandai-padaninya tupai melompat akhirnya jatuh juga bukan sekedar pepatah dalam rangka mengingatkan ikhtiar manusia, karena pada kenyataannya, Allah telah menggariskan kemampuan manusia jauh sebelum adagium itu hadir. “Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah.” (QS. An-Nisa [4] : 28).

“Allah telah menciptakan kalian lemah, kemudian menjadi kuat, lalu setelah kuat kalian menjadi lemah dan tua.” (QS. Rum [30] : 54).

Bahkan pada momentum ayat yang lainnya, Allah dengan terang-terangan mengidentifikasikan manusia dalam keadaan yang begitu rentan terhadap hati. Dalam surah ke 70 ayat 19, Allah berfirman: “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir”,
Tidak berakhir di situ, kemudian Allahpun menjelaskan lagi perihal makhluk hidup yang akan membuat kita terangsang untuk lekas mengintropeksi diri, muhasabah, dan kembali kepada khittah kehidupan cinta, yakni firman yang berbunyi selang dua ayat berikutnya, “dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir”.

Ada banyak varian dari timbulnya problematika cinta, salah satunya bagaimana kita salah mengelola qalbu dalam cinta. Qolbu adalah wilayah yang urgen dalam kehidupan, hingga Rasulullah saw pernah mengeluarkan hadisnya yang menyentuh,

“Ketahuilah sesungguh dalam jasad ada segumpal darah. Jika ia baik seluruh jasad akan baik pula. Jika ia rusak maka seluruh jasad akan rusak. Ketahuilah bahwa itu adalah qalbu.”
Banyaknya manusia yang terpuruk dalam cinta dan dikuasai hawa nafsu tak lepas karena kita telah menggantungkah harapan kepada selain Allah. Merasa diri sombong dengan meletakkan ayat-ayat ilahi sebagai prioritas kedua dalam mengatasi permasalahan kita.

Salah Satu Kunci Kenyamanan Hidup Dimulai Dari Bagaimana Kita Mampu Membangun Suasana Hati

Saudaraku, belajar dari kisah cinta Sayyid Quthb, percayalah bahwa hati yang cemas, kikir, gelisah, kotor, dan merasa lelah menjalani hidup, dikarenakan kita sudah meletakkan standar-standar duniawi sebagai syarat kebahagiaan hakiki. Kita rela menyiksa hidup dengan syarat-syarat wahn yang sebenarnya tak bisa kita lakukan. Kalau kita mau jujur, kesemua itu malah jauh dari sumber kebahagiaan yang sebenarnya, yakni ketenangan hati untuk bagaimana kita selalu berusaha dekat dengan Allah.

Saudaraku, Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu pernah berkata bahwa “Tidak sempurna keselamatan qalbu seorang hamba melainkan setelah selamat dari lima perkara: syirik yang menentang tauhid, bid’ah yang menyelisihi As-Sunnah, syahwat yang menyelisihi perintah, kelalaian yang menyelisihi dzikir dan hawa nafsu yang menyelisihi ikhlas.” Hamba yang memiliki qalbun salim akan selalu mengutamakan kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia yang mana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mempersiapkan tempat di surga.

Saudaraku, salah satu kunci kenyamanan hidup dimulai dari bagaimana kita mampu membangun suasana hati. Jika hati kita ikhlash dan bersih dengan penuh ketawadhuan, sesuatu yang kita pandang hina jadi sedemikian mulia, yang tadinya kita pandang kurang ternyata teramat cukup, sesuatu yang kita lihat kecil dan tak berdaya berubah jadi sangat besar dan penuh makna, dan apa yang kita lihat sedikit, ternyata terlampau banyak. Dan itu di mulai dari bagaimana kita hanya bergantung kepada Allah dan menjadi Allah sebagai satu-satunya zat yang mampu membuat kita bangkit setelah terjatuh.
Sekarang pertanyaannya apakah kita mau melepaskan segala ukuran ideal kehidupan kita, kesombongan kita atas pilihan yang jauh dari genggaman kesanggupan kita. Kini, apakah kita juga rela berhenti sejenak melepas atribut keduniawian kita untuk menghadap one by one dengan Allah dengan berkata jujur di depan SinggasanaNya. Jika kita berani, rasakanlah ada aliran kesejukan dan ketenangan yang sebelumnya tidak kita rasakan. Ia menentramkan. Ia pun mampu merubah paradigma kita tentang cinta, hidup, dunia, ujian, dan sebagainya sama sepertia yang Sayyid Quthb rasakan. Jika kita masih bergeming, yakinlah sebenarnya itu kembali kepada diri kita pribadi.

“Maka apabila hari kiamat telah datang. Pada hari ketika manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya. Dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada tiap orang yang melihat. Adapun orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia maka sesungguh nerakalah tempat tinggalnya. Dan adapun orang yang takut kepada kebesaran Rabb dan menahan diri dari keinginan hawa nafsu maka sesungguh surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An-Naziat [79] : 34-42)
Wallahua’lam. Ciracas, 18 September, 2010. Pukul 01.00 WIB

Selasa, 01 Mei 2012

Penggelembungan Harga Sukhoi

Desas-desus dugaan penggelembungan anggaran dalam pembelian enam pesawat tempur Sukhoi SU-30 MK2 dari Rusia menyeruak. Muncul sangkaan telah terjadi penyimpangan pembelian Sukhoi yang harganya digelembungkan dari 55 juta dollar AS per unit pada 2010 menjadi 83 juta dollar AS per unit pada 2011.
Lebih jauh Indonesia Corruption Watch (ICW) mensinyalir terdapat pelibatan pihak ketiga dalam pembelian enam pesawat tempur Sukhoi jenis SU-30 MK2 dari Rusia JSC Rosoboronexport Rusia yang diageni PT Trimarga Rekatama.
Akibatnya, harga per unit Sukhoi melambung dari 55 juta dollar AS pada 2010 menjadi 83 juta dollar AS pada 2011. Dari skema pembiayaan dengan kredit ekspor, menurut ICW, agen mendapatkan fee 15-20 persen dari harga barang sehingga potensi kerugian negara lebih dari Rp 1 triliun.

Wilayah tertutup
Korup di area tertutup bidang pertahanan telah menjadi momok lama setiap negara. Dugaan itu sah-sah saja sebab pengadaan barang dan jasa yang berlangsung secara terbuka saja bisa diakal-akali, bagaimana dengan pembelian barang berteknologi super yang notabene berada di wilayah yang terlindung oleh pengecualian dalam UU Keterbukaan Informasi Publik?
Berdasarkan Pasal 7 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, dokumen yang memuat tentang strategi intelijen, operasi, teknik, dan taktik yang berkaitan dengan penyelenggaraan sistem pertahanan dan keamanan negara yang meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, dan pengakhiran atau evaluasi merupakan salah satu dari sekian banyak informasi yang dikecualikan.
Demikian juga tentang jumlah, komposisi, disposisi atau dislokasi kekuatan dan kemampuan dalam penyelenggaraan sistem pertahanan dan keamanan negara serta rencana pengembangannya merupakan hal yang kerahasiaannya dilindungi berdasarkan UU Keterbukaan Informasi Publik.
Namun, bagaimana upaya pencegahan terjadinya korupsi di area tertutup seperti dalam kasus pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) tersebut? Tentunya kebijakan itu tidak cukup hanya sampai pada tataran instruksi presiden atau sebatas MOU atau kesepakatan bersama antara Kementerian Pertahanan dan Komisi Pemberantasan Korupsi yang ditandatangani November 2010 lalu.
Besarnya kemauan politik dari pemerintah untuk memajukan industri pertahanan nasional dengan mengalokasikan 50 persen dari total anggaran pertahanan sebesar Rp 64,4 triliun untuk alutsista harus diikuti dengan upaya penciptaan sebuah sistem pencegahan dini terhadap tindak pidana korupsi di bidang pertahanan. Sistem pencegahan dini tindak pidana korupsi tersebut harus diadopsi secara komprehensif dan tegas dalam sebuah peraturan perundang-undangan.
Dalam tataran praktik, Menteri Pertahanan melalui Keputusan Nomor KEP/07/M/I/2011 tentang pembentukan tim Konsultasi Pencegahan Penyimpangan Pengadaan Barang/Jasa (KP3B) Kementerian Pertahanan dan TNI yang dikeluarkan pada 6 Januari 2011 berupaya mengawasi pengadaan barang dan jasa, mulai dari tahap perencanaan hingga evaluasi kegiatan. Akan tetapi, bagaimanakah tingkat efektivitas dari kinerja tim yang berada di bawah sebuah kementerian jika pengadaan barang dan jasa yang diawasinya melibatkan sejumlah jabatan yang berada satu tingkat yang sama atau bahkan di atasnya?
Untuk itu, perlu diciptakan sebuah mekanisme pengawasan dan pemantauan terhadap pelaksanaan kebijakan industri pertahanan dan keamanan yang komprehensif dan sistemis. Di AS, misalnya, diterapkan kebijakan Local Commanders Open Door Policy, Commanding General Open Door Policy, Whistle Blowers Act, Hot Lines: Commanding General Hot-Line, Military Police Hot-line, Criminal Investigative Detachment Hot-line, dan the DOD Hot-line, serta NCO Support Channel.
Bagaimana dengan Indonesia? Meski Indonesia telah memiliki UU Perlindungan Saksi dan Korban, tingkat efektivitas dari pelaksanaan UU tersebut masih menjadi pertanyaan. Lantas dapatkah keberadaan tim-tim di bawah sebuah kementerian cukup menjadi senjata ampuh untuk tindak pidana korupsi di bidang pertahanan?
Keberadaan KPK merupakan institusi yang bersifat reaktif, bukan preventif. Karena itu, pengaturan tentang Komite Kebijakan Industri Pertahanan dan Keamanan (KKIP) yang bertugas mengoordinasikan perumusan, pelaksanaan, dan pengendalian kebijakan nasional industri pertahanan dan keamanan dalam RUU tentang Industri Pertahanan dan Keamanan perlu dirumuskan secara komprehensif dan tegas sehingga mampu menciptakan sebuah sistem pengawasan yang melekat di bidang pertahanan dan keamanan.

Terpusat
Namun, sayangnya pengaturan KKIP dalam RUU tersebut bersifat terpusat. Struktur KKIP diketuai oleh wakil presiden dan wakilnya adalah menteri yang membidangi urusan pertahanan.
Keanggotaan utama KKIP terdiri dari menteri yang membidangi urusan badan usaha milik negara; menteri yang membidangi urusan perindustrian; menteri yang membidangi urusan riset dan teknologi; menteri yang membidangi urusan pendidikan; menteri yang membidangi urusan komunikasi dan informatika; menteri yang membidangi urusan keuangan; menteri yang membidangi urusan perencanaan pembangunan nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional; Panglima Tentara Nasional Indonesia; dan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia. Keanggotaan pendukung KKIP berasal dari unsur perguruan tinggi.
RUU tentang Industri Pertahanan dan Keamanan tidak mengatur dengan jelas bagaimana mekanisme kerja KKIP dalam melakukan pengawasan hanya diserahkan melalui pembentukan peraturan presiden. Lantas bagaimana jika dalam sebuah kasus, penyimpangan pengadaan atau produksi dalam industri pertahanan dan keamanan terjadi karena tindakan penyimpangan tersebut diambil berdasarkan ketentuan lain yang ada dalam sebuah UU?
Selain itu, RUU Industri Pertahanan Keamanan hanya mengatur tentang tugas KKIP dan tidak memberikan penegasan tentang kewenangan yang dimiliki KKIP. Apakah KKIP tidak akan menjadi macan ompong lainnya seperti Komisi Penyiaran Indonesia? Karena itu, perlu dirumuskan secara tegas dan komprehensif tentang kewenangan serta mekanisme kerja KKIP sehingga dapat menjadi alat yang efektif untuk mencegah terjadinya korupsi di area tertutup bidang pertahanan.

Sebagaimana dimuat dalam Kompas,  Sabtu, 24 Maret 2012

Senin, 27 April 2009

Manohara dan KDRT

Manohara. Nama wanita cantik yang pernah menjadi model, keturunan Indonesia-Perancis itu mendadak menjadi terkenal lantaran isu kekerasan dalam rumah tangga yang dialaminya. Ternyata menikah dengan laki-laki dari keluarga “baik-baik” tidak menjadi jaminan akan kebahagiaan. Di balik sosoknya yang bersahaja, ternyata Mr.T mampu melakukan aksi KDRT terhadap Manohara.

KDRT, ternyata meski telah menjadi concern bersama, namun toh dalam kehidupan sehari-hari KDRT tetap saja terjadi, seperti yang terjadi pada Manohara.

Jika akhirnya Bunda Manohara memilih melakukan perlawanan, keputusan itu sangat dapat dipahami. Sebab terkadang si korban KDRT sendiri tak mampu lagi untuk berteriak. Lantas sejauh apa “pemberantasan” tindak KDRT di Indonesia ? Ternyata meski KDRT telah diangkat permasalahannya menjadi sebuah undang-undang namun tetap saja korban-korban KDRT lebih memilih bungkam, ketimbang menyelesaikan permasalahan KDRT secara hukum. Begitu pula keluarga terdekat mereka yang telah melihat atau mengetahuinya terjadinya KDRT tersebut.

Alasannya sangat jelas, keutuhan rumah tangga selalu dikaitkan dengan harga diri seorang di mata masyarakat. Sebab wanita, sudah ditakdirkan untuk bersikap nrimo, sabar.

Ironisnya, aksi bungkam juga dilakukan oleh para istri korban KDRT yang tergolong pelajar. Sebab mereka mengkhawatirkan, aksi pelaporan, atau tindakan perlawanan terhadap KDRT yang dilakukan suaminya dapat mempengaruhi kondite mereka. Mereka memilih bungkam lantaran takut kariernya akan mendapat imbas yang negatif.

Berikut beberapa hal yang dapat melatar belakangi terjadinya KDRT khususnya yang dilakukan oleh para suami :

1. Trauma masa kecil (suami kerap melihat KDRT yang dilakukan Sang Ayah kepada Bunda nya tanpa adanya perlawanan).

2. Ada WIL (Wanita Idaman Lain).

3. Kedudukan istri lebih tinggi dari suami (mungkin ada beberapa pria yang sanggup menerima kenyataan istri memiliki kedudukan, baik jabatan, pendidikan maupun kekayaan lebih tinggi dari suami, namun pada dasarnya sifat dasar laki-laki yang tak mau di ungguli tetap akan menjadi problema).

4. Perangai / Sifat yang terbentuk sejak kecil (sebab pengakuan bahwa sikap kasar merupakan sifat mereka kerap muncul dari para pelaku tindak KDRT.)

5. Keinginan untuk mendominasi dan memiliki yang berlebihan (termasuk didalamnya sikap posesif/cemburu yang berlebihan).

6. Keinginan untuk menunjukkan kekuasaannya.

7. Posisi atau kedudukan suami mendadak naik.

8. Ego sentris atau tingkat ego yang lebih tinggi dari ambang batas normal.

Serta beberapa alasan lainnya.

Apakah pria yang memiliki bakat sebagai pelaku KDRT dapat dikenali ? Sangat sulit. Sebab mereka terkadang mampu menyembungikan bakat terpendam mereka dengan begitu rapatnya sehingga tak dapat terbaca oleh pasangannya. Namun setidaknya beberapa hal yang melatarbelakangi terjadinya KDRT tersebut sedikit banyak dapat memberikan warning kepada para wanita untuk mempertimbangkan masak-masak sebelum menerima seseorang untuk menjadi pendamping hidupnya.

Tetapi ada beberapa hal yang dapat diamati secara fisik maupun dari tindak tanduk maupun latar belakang keluarga laki-laki cenderungyang memiliki bakat melakukan tindak KDRT, yaitu sebagai berikut :

  1. Dominasi ayah dalam keluarganya sangat kuat. (:Keluarga dimana laki-laki pelaku tindak KDRT biasanya tergolong keluarga “baik-baik, beragama” namun dalam tataran normatif. Artinya, keluarga itu tampaknya selalu mengedepankan dilaksanakannya prinsip-prinsip keimanan, keTuhanan, namun tidak memahami maknanya ).
  2. Hubungan antara ayah/ibu dan anak terdapat jarak (:biasanya keluarga dimana dimana laki-laki pelaku tindak KDRT biasanya hanya bersifat formal, antara ayah/ibu dengan anak jarang terlihat curhat atau saling menyatakan perasaan secara terbuka)
  3. Keakraban keluarga hanya sebatas formalitas. (:tidak ada ikatan emosional, hanya sebatas dilaksanakannya kewajiban saja.
  4. Dari kepribadian tidak ada tanda-tanda khusus, namun melalui pengamatan, biasanya jika laki-laki pelaku tindak KDRT yang pendiam dia akan terlihat sedikit posesif, selalu ingin melindungi, selalu ingin berada di dekat pasangannya...Namun jika dimana laki-laki pelaku tindak KDRT bersifat ceria, akrab dan mudah bergaul, maka dia dapat terlihat dari sikap dia menghadapi orang lain. Pertama kali ketemu dengan seseorang, dia akan terlihat sangat cepat akrab dan mudah bergaul. Namun pada pertemuan berikutnya dia akan terlihat cuek dan tidak perduli.
  5. Suka melanggar lampu merah. Laki-laki pelaku tindak KDRT biasanya suka melanggar lampu merah sebab baginya, tidak ada sesuatu peraturan apa pun yang tidak dapat dilanggar. Melanggar lampu merah juga merupakan cerminan sikap ego sentris yang lebih tinggi dari batas normal.
  6. Cenderung tidak sabaran, grusa-grusu.
  7. Sangat bergantung pada anda, baik pada saat pacaran maupun sesudah menikah.
  8. Kadang terlihat sangat childish, manja
  9. Semasa muda/bujang suka menghabiskan waktu untuk kongkow2, gaplek, kumpul dengan teman-teman, bila perlu melakukan perjalanan jauh beramai2.
  10. Biasanya laki-laki pelaku tindak KDRT tidak memiliki sahabat karib cewek. Berdasarkan pengamatan, laki-laki yang memiliki sahabat karib cewek cenderung bersikap gentle, dan penyayang.

Lantas bagaimana sikap kita seharusnya jika ternyata pasangan kita merupakan laki-laki pelaku tindak KDRT ??

1. Jika hubungan itu masih dalam taraf pacaran, segera tancap gas....segera putuskan hubungan anda. Dengan alasan apa pun juga, tak seharusnya laki-laki tega memukul/menampar seorang wanita yang katanya dia cintai. Tak usah menangisi cinta anda. Sebab resiko yang harus anda jalani sangat berat.

2. Jika anda mengetahui perangkai pasangan anda di tengah-tengah perkawinan, segera lakukan gugatan cerai, kecuali anda merasa mampu bersikap sabar. Jika memang anda ingin mempertahankan perkawinan anda, sebaiknya anda jangan menceritakan tindak KDRT suami anda kepada orang tua Anda, sebab berdasarkan pengamatan, tidak ada satu orang tua pun yang rela anak yang sudah mereka besarkan dengan susah payah ditampar, atau dibentak. Sebab berdasarkan pengamatan, minimal 10 tahun lamanya waktu yang dibutuhkan untuk melihat sedikit perubahan pada laki-laki pelaku tindak KDRT, dan biasanya sangat sulit menghilangkan tindakan KDRT – tak peduli kali-laki itu mengaku beriman atau tidak – sebab itu seperti kebiasaan yang mendadak selalu muncul setiap saat tanpa dapat diduga...

3. Bagaimana jika anda sudah terlanjur mencoba bertahan lebih dari 5 tahun dari usia pernikahan anda dan anda sudah terlanjur memiliki anak-anak dari pasangan anda ????

- pertama amati, apakah tindak KDRT itu menimpa anak anda tidak. Berdasarkan pengamatan, biasanya laki-laki pelaku tindak KDRT juga tidak sabar menghadapi polah tingkah anak kecil biar pun itu adalah anaknya sendiri. Tak jarang mereka sesekali memukul kaki, melempar sandal, atau membentak anaknya.

- Amati perkembangan anak anda, jika anak anda mengatakan, “Mengapa sih mama tidak kawin lagi saja, “ artinya lampu hijau buat Anda, sebab kesabaran si anak juga sudah berada di ambang batas.

- Amati perkembangan psikologis suami anda selaku laki-laki pelaku tindak KDRT, apakah ada perkembangan yang cukup berarti (namun biasanya perkembangan ini sangat lambat....dan nyaris tidak dapat diharapkan).

- Jika pada akhirnya anda memutuskan untuk bercerai setelah sekian lama menahan diri, maka fase berikutnya yang harus anda pertanyakan, persiapkan adalah :

1. kesiapan anak-anak anda, berikan pengertian bahwa Ayahnya tetap adalah seorang ayah yang baik, agar tidak menimbulkan ekses negatif.

2. Kedua, berikan pengertian yang tepat kepada orang tua kedua belah pihak dan minta dukungan mereka.

3. Dapatkan kesepakatan dengan suami tentang batasan-batasan setelah anda nanti bercerai agar kelak dia tidak menjadi duri dalam daging bagi kehidupan anda. Bila perlu kesepakatan itu tertuang hitam di atas putih.

4. Siapkan mental anda untuk menghadapi sikap orang-orang disekitar anda, baik itu di tempat tinggal maupun di kantor. Sebab bagaimana pun juga masyarakat kita tetap belum dapat sepenuhnya menerima perlawanan seorang istri yang menjadi korban tindak KDRT.

Namun ingat!!! Suami anda pasti tidak akan membiarkan anda melenggang begitu saja, dia pasti akan mati-matian mempertahankan anda, baik dengan cara berubah menjadi anak yang sangat manis, hingga mengunakan kekerasan, ancaman bahwa hak asuh anak-anak akan dia kuasai. Sebab pada dasarnya suami pelaku tindak KDRT sangat bergantung pada anda. Dia sangat membutuhkan anda, dan dia juga sadar tak ada wanita lain yang sanggup bertahan dengannya.

4. Bagaimana jika anda merasa tidak mampu melakukan perlawanan sebab karena kondisi dan situasi yang tidak memungkinkan, misalnya keluarga anda melarang, atau bahkan mungkin anda takut karier anda mendapat pengaruh negatif??? Pasrah saja....berdoa....minta agar Tuhan melembutkan hatinya. Setidaknya menguatkan hati anda. Namun jangan sekali-kali anda menceritakan tindak KDRT suami anda kepada rekan sekerja yang tidak dapat dipercaya, sebab itu hanya akan menjadi bumerang bagi anda. Selain duka anda dapat dijual sebagai komoditas politik untuk menjatuhkan karier anda, anda juga dapat dijadikan bahan gosip.

Sekali lagi ini hanya berdasarkan pengamatan dan survei terbatas berdasarkan beberapa kisah. Akurasi yang tidak tepat dan kesalahan dari pengamatan sangat mungkin terjadi. Namun setidaknya dapat dijadikan bahan perenungan agar kaum wanita tidak terjerumus pada jurang yang mengerikan. Sebab akibat KDRT kadang tidak dapat terlihat oleh mata, dampak psikologis, seperti perasaan un happy, menderita, kesepian hingga rasa putus asa jauh lebih mengerikan daripada luka-luka fisik yang nyaris tak terlihat.

**) Catatan ini telah dimoderasi dan dimuat di http://public.kompasiana.com